Pembinaan Disiplin Oleh Orang Tua

Pendidikan adalah setiap usaha yang dilakukan untuk mengubah tingkah laku sedemikian rupa sehingga menjadi tingkah laku yang diinginkan. Setiap anak/siswa, harus mengalami dan menjalani proses perubahan yang cukup lama sebelum ia dapat sesuai dengan tata cara hidup umum. Seseorang anak masih menggantungkan hidupnya pada orang tua seperti biaya pendidikan pengawasan serta pembinaan disiplin oleh orang tua. Menurut Samuel[1] bahwa disiplin “Tegas dalam hal apa yang harus dilakukan, dan apa yang dilarang dan tidak boleh dilakukan”. Sedangkan menurut Engkoswara, dan kawan-kawan[2] bahwa disiplin ialah “Murid atau pengikut seorang guru. Seorang murid atau pengikut harus tunduk kepada peraturan, kepada otoritas gurunya”.

Berdasarkan pengertian di atas bahwa orang tua harus benar-benar tegas pada apa yang dikatakan tentang larangan/peraturan untuk anak dan apa yang boleh dilakukan. Apabila orang tua tidak tegas dalam penerapan disiplin, maka sia-sialah usaha orang tua itu, sebab seorang anak selalu mencoba-coba melakukan apa yang dilarang oleh orang tua. Apabila hasil percobaan itu berhasil dan orang tuanya tidak melarangnya, maka istilah coba-coba tadi akan menjadi suatu kebiasaan dan orang tua akan sulit merubahnya.

Anak yang dibesarkan tanpa disiplin, akan memperoleh kebebasan. Tanpa bimbingan dan pengawasan orang tua maka anak tak akan berhasil dalam sekolah sehingga aktivitasnyapun sangat rendah, olehnya itu disiplin harus tetap diupayakan dengan jalan mengetahui apa yang tidak boleh dilakukan, dan anak harus tahu bahwa setiap pelanggaran yang dilakukan akan menyebabkan penolakan dari orang tua.

Orang tua, baik ayah maupun ibu harus mempunyai kesamaan presepsi dalam menerapkan disiplin terhadap anak. Larangan orang tua terhadap anak merupakan larangan ayah maupun ibu, dan bukan sebaliknya, ayah melarang tapi ubu membolehkan. Apabila hal ini terjadi, maka anak akan menjadi bingung dan pada akhirnya tidak akan melaksanakan sesuatu yang diperintahkan maupun yang dilarang orang tua.

Penanaman disiplin akan bermuara pada pembentukan disiplin diri, hal ini akan terwujud pada anak yang sudah dapat bertingkah laku yang baik. Pembentukan disiplin diri sangat besar relevansinya dengan penerimaan otoritas orang tua. Dalam kondisi demikian anak akan melakukan tugas-tugas yang diinginkan dari padanya. Kebiasaan anak untuk memanfaatkan waktu belajar dengan cara membuat jadwal kegiatan yang dimulai dari bangun pagi, pergi ke sekolah, istirahat siang, membantu orang tua di rumah, bersantai dan waktu belajar, merupakan indicator-indikator bahwa disiplin yang ditanamkan orang tua sudah mendapat respons yang positif dari anak.

Di samping itu pula orang tua melakukan pengawasan terhadap anak terutama waktu-waktu belajarnya, orang tua juga harus dapat memecahkan masalah-masalah yang di hadapi anak, seperti pengadaan buku, bolpoint dan sarana-sarana pendidikan lainnya. Setiap orang tua menginginkan agar anaknya berhasil dalam hidup. Setiap orang tua mendambakan anaknya kelak menjadi orang yang sukses, tetapi kenyataannya tidak semua orang tua berhasil melakukannya. Dalam kegagalan orang tua tersebut perlu dikaji lebih rinci, faktor apakah yang menyebabkan terjadinya kegagalan itu. Seringkali orang tua tidak dengan sengaja dan tanpa disadari telah mengambil suatu sikap tertentu. Anak melihat dan menerima sikap orang tuanya dan memperlihatkan suatu reaksi dalam tingkah lakunya yang dibiasakan sehingga menjadi suatu pola kepribadian.

Sikap disiplin orang tua ditanamkan melalui hal-hal yang diperlukan dan pula dihindari oleh anak sering tidak dilaksanakan secara konsekwen oleh orang tua. Sikap disiplin seperti menanamkan nilai-nilai ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa seharusnya dianjurkan, tetapi orang tua tidak pernah menganjurkannya, sebab orang tuanya sendiri tidak pernah beribadah.

Sikap penanaman disiplin orang tua terhadap anak dipengaruhi pula sikap orang tua terhadap anaknya. Hal ini sejalan dengan pendapat Sarumpaet[3] yang menyatakan bahwa sikap orang tua terhadap anak ditentukan oleh :

a)      Sikap terlalu menyayangi dan melindungi anak

b)      Pemanjaan yang berlebih-lebihan

c)      Kekhawatiran yang berlebihan

d)     Kekurangan rasa sayang

e)      Penolakan terhadap anak

f)       Identifikasi

g)      Pertentangan antar orang tua[4]

 Sikap terlalu menyayangi dan melindungi anak, secara dominan dimiliki oleh Ibu. Anaknya terlalu disayang, dilindungi dan dikuasai serta dimanja. Sikap ini diperlihatkan sifat-sifat anak seperti malu dan tidak patuh, selalu menimbulkan masalah baik di rumah maupun di sekolah. Hal ini mengakibatkan aktivitas belajarnya sangat rendah. Sikap orang tua terlalu memanjakan anak yang mengakibatkan anak banyak menuntut yang selalu dipenuhi oleh orang tua, sehingga anak cenderung meminta perhatian baik di rumah maupun di sekolah. Anak enggan bekerja sebab semuanya telah dilaksanakan sendiri tanpa orang tuanya, sikap ini pula terbawa ke sekolah dimana anak tidak mau mengerjakan hal-hal yang diperintahkan oleh gurunya.

Sikap kekhawatiran yang luar biasa khususnya tentang kesehatan anak, sehingga anak tidak diberikan kebebasan untuk bergerak. Apabila anak ditugaskan oleh guru untuk membentuk kelompok belajar dengan teman-temannya, orang tua selalu melarangnya sehinga anak bersifat pasif. Sikap kekurangan rasa sayang nampak dalam sikap acuh tak acuh dan masa bodoh terhadap kebutuhan anak terutama menyangkut kebutuhan sekolah. Sikap orang tua yang demikian mengakibatkan anak akan memberontak baik terhadap orang tuanya maupun terhadap gurunya, bahkan anak menjadi nakal dan merupakan dalang keributan di sekolah.

Sikap penolakan orang tua terhadap anak, seperti orang tua tidak mengharapkan kelahiran anak tersebut. Akibatnya anak itu selalu mendapat hukuman yang berat dari orang tuanya. Sikap orang tua demikian ini, mengakibatkan anak takut berbuat karena takut salah bahkan takut untuk dihukum, berhadapan dengan gurupun anak akan menjadi takut, sehingga anak tidak mau bekerja atau melaksanakan sesuatu yang diperintahkan gurunya karena takut untuk mendapatkan hukuman akibat kesalahan yang diperbuatnya. Sikap indetifikasi orang tua yang ditanamkan kepada anak maksudnya agar kegagalan-kegagalan yang dialami orang tua tidak terulang pada anaknya, orang tua sering menanamkan bermacam-macam disiplin yang harus dipatuhi sang anak. Tindakan ini dimaksudkan untuk mengantisipasi anak agar tidak mengulangi kegagalan orang tuanya. Agar anaknya sukses, tetapi orang tua tidak mempertimbangkan potensi yang ada pada anak. Akibatnya anak melakukan pekerjaan yang tidak sesuai dengan kehendaknya, akhirnya anak menjadi pasif.

Sikap pertentangan orang tua, di mana ayah membolehkan sesuatu yang dikerjakan anak, tetapi ibu melarangnya, juga sebaliknya ibu memperbolehkan tetapi ayah melarangnya mempengaruhi aktivitas anaknya. Hal ini menimbulkan keraguan-keraguan terhadap anak, mana yang harus dihadapinya dan akhirnya anak mengambil keputusan/memperlihatkan sikap masa bodoh. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa orang tua harus bijaksana dalam melaksanakan atau menanamkan disiplin terhadap anak. Juga orang tua menyadari bahwa pada masanya bersekolah tidaklah sama situasi dan suasana dengan masa anaknya. Olehnya itu sebagai orang tua dalam menanamkan disiplin terhadap anak harus memperhatikan potensi-potensi yang dimiliki oleh anak.


[1] Samuel S, Menciptakan Anak-anak Bahagia. Jakarta : Citra Utama. 1987, Hal : 136

[2] Engkoswara. Dasar-dasar Metedologi Pengajaran. Jakarta : Balai Pustaka. 1984, Hal : 63

[3] Sarumpaet, RI. Rahasia Mendidik Anak.Bandung : Singgi D. Gunarso. 1983,  Hal.83

[4] Ibid., h. 86

3 Comments

  1. Hany said,

    April 2, 2012 at 3:42 am

    yang jelas menjadi orang tua yang baik perlu pelajaran dan orang tua harus mau belajar menjadi orang tua yang baik jika ingin anaknya berkembang,..:)

    • Dewasastra said,

      April 2, 2012 at 5:34 am

      Wowww… sudah kayaknya sudah cocok nih jadi orang tua…. hhe…he..🙂

  2. Hany said,

    April 9, 2012 at 5:08 am

    memang sudah tambah tua sekarang kak,..:D


%d bloggers like this: