Sebuah Pengantar : Orang Tua dan Disiplin Belajar Anak

orang tua dan anak dalam belajar

Bangsa dan pemerintah Indonesia yang sedang membangun guna mengisi kemerdekaan, menyadari betapa pentingnya pendidikan dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi demi mengejar keterbelakangan. Hal ini terlihat dengan adanya perhatian pemerintah terhadap pembangunan yang cukup besar disektor pendidikan. Segala daya dan dana  pembangunan yang cukup besar di sektor pendidikan terus diusahakan. Pengadaan sarana dan prasarana  Penataran dan sebagainya, merupakan usaha terpadu yang dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan.

Melalui peningkatan mutu pendidikan diharapkan  akan terbentuk manusia-manusia yang berkualitas yang memiliki potensi sebagai sumber daya manusia. Hal ini sesuai dengan apa yang diamanatkan dalam GBHN tentang tujuan pendidikan nasional yang diarahkan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia serta kualitas sumber daya manusia  Indonesia dan memperluas serta meningkatkan pemerataan kesempatan memperoleh pendidikan termasuk didaerah terpencil.

Pendidikan bukan suatu tanggung jawab pemerintah saja, melainkan juga tanggung jawab dari orang tua dan masyarakat itu sendiri antara orang tua     masyarakat dan pemerintah harus bersama-sama melaksanakan suatu tugas dan tanggung jawab yang sama.

Untuk menunjang hasil belajar siswa perlu ditopang oleh orang tua itu sendiri, sebab antara sekolah dan orang tua harus mempunyai hubungan timbal balik dan saling memberikan informasi tentang keadaan dan kemampuan siswa itu sendiri. sebab pendidikan yang ada dilingkungan sekolah selalu berusaha memindahkan ilmu pengetahuan dan pengalaman bahkan keterampilan yang mereka miliki kepada anak didiknya. Olehnya itu untuk menerima ilmu pengetahuan pengalaman dan keterampilan siswa harus melalui suatu proses  belajar.

Oemar Hamalik mengemukakan pengertian belajar sebagai berikut:

”Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan dalam diri seorang yang dinyatakan dalam cara cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan, tingkahlaku yang baru misalnya tidak tahu menjadi tahu. Timbulnya pengertian pengertian baru, perubahan dalam sikap, kebiasaan, keterampilan, kesanggupan menghargai, perkembangan sosial, emosional dan pertumbuhan jasmani.”[1]

Sedangkan belajar menurut Herman Hudaya adalah “Suatu proses aktif dalam memperoleh pengalaman /pengetahuan baru sehingga menyebabkan perubahan tingkah laku”.[2]

Dari kedua pengertian di atas terlihat suatu persamaan dalam hal adanya aktivitas serta timbulnya perubahan tingkah laku. Jadi bagaimanapun belajar akan terwujud aktivitas dari siswa yang belajar, sehingga dapat disimpulkan bahwa belajar adalan aktivitas yang menghasilkan perubahan pada individu baik rohani maupun jasmani.

Zaman sekarang ini anak-anak tidak dapat dilepaskan begitu saja, anak tidak dapat dilepaskan sehingga tumbuh sendiri, karena peraturan, hukum, ilmu pengetahuan yang cukup canggih sudah bertumbuh majemuk dan harus diajarkan kepada anak. Perjuangan hidup untuk mencari nafkah juga bertambah pelik, karenanya  kepandaian dan keterampilan anak-anak dipersiapkan dengan sungguh agar dapat mempertahankan hidupnya.

dengan perpindahan pola hidup pertanian ke pola hidup bertenaga mesin, maka ikatan keluarga berkurang, Orang tua bekerja diluar rumah dan tidak sempat mempersiapkan / membimbing bagaimana cara anak belajar dirumah. Ini disebabkan semakin singkatnya waktu senggang orang tua terhadap anaknya. Kekurang aktifan siswa dalam belajar disebabkan oleh tanggung jawab orang tua dalam mendidik anak untuk belajar sebagian bahkan seluruhnya diserahkan kesekolah.

Bilamana orang tua  kurang ketat dalam membina disiplin belajar anak, dengan sendirinya anak enggan untuk belajar sehingga hasil belajarnya akan rendah. Apabila seorang siswa tidak dibekali dengan sikap disiplin yang baik, sudah dapat digambarkan pula bahwa anak tersebut enggan kesekolah dan apabila kesekolah  anak tersebut kadangkala melanggar tata tertib sekolah.


[1] Oemar Hamalik. Methode belajar dan kesulitan belajar. Bandung : Tarsito, 1983, Hal 21

[2] Herman Hudaya. Pengembangan Kurikulum dan Pelaksanaannya di Depan kelas. Surabaya: Usaha Nasional, 1986, Hal.37

 

%d bloggers like this: