Teori Perkembangan Anak

perkembangan dan pertumbuhan anak

Istilah perkembangan sering digunakan secara “interchangeably” dengan kata pertumbuhan, artinya kedua istilah itu dipakai secara silih berganti dengan maksud yang sama. Sebenarnya kedua istilah tersebut mempunyai pengertian yang berbeda. Berdasarkan padangan  John Dewey, bahwa manusia adalah makhluk hidup, dan hidup itu merupakan suatu proses pertumbuhan. Sedangkan perkembangan adalah perubahan kualitatif sesuatu sehingga membuahkan hasil atau menfaat bagi pihak lain.1 Dengan demikian antara pertumbuhan dan perkembangan memiliki pengertian yang berbeda.

 Manusia sejak dalam kandungan sudah ditentukan polanya, dan tiap-tiap sel tubuh berkembang sesuai dengan garis perkembangannya masing-masing.  Dalam Buku Psikologi Pendidikan,  pengertian pertumbuhan adalah perubahan kuantitatif pada materil sesuatu sebagai akibat dari adanya  pengaruh lingkungan. Perubahan kualitatif ini dapat berupa pembesaran atau pertambahan dari tidak ada menjadi ada, dari kecil menjadi besar, dari sedikit menjadi banyak, dari sempit menjadi luas, dan sebagainya. Ini berarti,  bahwa peretumbuhan itu hanya berlaku pada hal-hal yang bersifat kuantitatif, karena tidak selamanya materil itu kuantitatif. Matril dapat terdiri dari bahan-bahan kuantitatif seperti misalnya atom, sel, kromoson, rambut, molekul dan lain-lain, dapat pula materil terdiri dari bahan-bahan kuantitatif seperti kesan, keinginan, ide, gagasan, pengetahuan, nilai, dan lain-lain. Jadi materil itu terdiri dari kualitas dan kuantitas.

Berdasarkan pengertian di atas, maka yang dimaksud dengan pertumbuhan pribadi adalah sebagai perubahan kuantitatif pada materiil pribadi, sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Materiil pribadi yang dimaksud adalah seperti; sel, kromoson, butir darah, rambut, lemak, tulang, tidak  dapat dikatakan berkembang, melainkan bertumbuh atau tumbuh. Begitu juga materiil pribadi seperti; kesan keinginan, ide, pengetahuan nilai, selama tidak dihubungkan dengan fungsinya, maka tidak dapat dikatakan berkembang, melainkan bertumbuh atau tumbuh. Kaitannya dengan pertumbuhan, bahwa peristiwa pertumbuhan pribadi manusia adalah bertolak dari peristiwa hereditas (sifat turun-temurun). Manusia terbentuk dari materiil yang lemah . Materiil yang dimaksud adalah materiil genetis. Pertumbuhan genetis manusia tidak jauh  berbeda  dengan pertumbuhan genetis pada hewan, karena keduanya merupakan organisme.

 Pertumbuhan manusia mencakup dua aspek perubahan, yaitu perubahan kuantitatif dan perubahan kualitatif. Perubahan kuantitatif mencakup “division” dan dan memperbanyak kromoson, sel-sel, penambahan jumlah gigi, rambut, pembesaran materiil jasmaniah. Jadi, adanya perubahan struktur pisik adalah merupakan pertumbuhan secara kuantitatif.  Selanjutnya, dengan perubahan struktur fisiologis maka dapat menyebabkan adanya perubahan emosional. Perubahan emosional  ini  dapat menumbuhkan perangai pribadi manusia. Deferensiasi struktur dan akumulasi pengalaman menghasilkan rekasi-reaksi emosional yang lebih kompleks. Perubahan fungsi-fungsi fisiologis seperti otak dan sistem saraf menghasilkan pertumbuhan kapasitas   itntelektual   atau   kecakapan  untuk  melakukan   sesuatu. Hal inilah yang disebut dengan pertumbuhan kualitatif pada diri manusia.3

Adapun yang disebut dengan perkembangan, sebagaimana telah disebutkan  di atas, bahwa pertumbuhan dan perkembangan tidak sama. Perkembangan  adalah merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak bersifat kuantitatif, melainkan kualitatif. Perkembangan  tidak ditekankan pada segi materiil, mnelainkan pada segi fungsional. Dengan demikian, perkembangan  adalah perubahan kualitatif daripada fungsi-fungsi  kepribadian manusia berhubungan dengan aspek jasmaniah dan aspek kejiwaan.4

Daftar Pustaka :

1 Wasty Soemanto, Psikologi Pendidikan, Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan, Cet. V,  (Jakarta: PT Rineka Cipta,  2006), h.  42

2 I b i d.,  h. 44

3I b i d.,  h. 49-

4I b i d.,  h. 57

%d bloggers like this: