Tinjauan Umum Perkawinan Dalam Islam

Manusia sesuai dengan fitrah yang diciptakan Tuhan dalam dirinya, mempunyai kebutuhan jasmani, di antaranya kebutahan seksual, yang akan dapat dipenuhi dengan baik dan teratur dalam hidup berkeluarga. Kebutuhan seksual kalau coba dipenuhi di luar perkawinan akan membawa akibat-akibat  yang akhirnya akan membawa ke hal-hal yang tidak baik dan merugikan manusia. Tetapi, tidak semua manusia mempunyai hajat yang demikian. Ada manusia yang tidak butuh pada perkawinan dan hidup perkawinan baginya akan menimbulkan problem-problem. Oleh karena itu, perkawinan dalam Islam pada dasarnya tidak di wajibkan, tetapi hanya dianjurkan bagi yang berhajat lagi mampu. Perkawinan membawa resiko dan tanggung jawab yang berat. Soal perkawinan tidak boleh dipandang enteng. [1] Karena berat lagi besar resiko dan pertanggung jawabannya, maka perkawinan harus didasarkan atas kasih sayang, sesuai dengan apa yang dimaksud dalam ayat 21 surah Ar-Rum:

Artinya :

“ dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia mencitakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih-sayang. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”[2]

 Perkawinan yang tidak didasarkan atas kasih – sayang tidak akan mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, warrahmah dan menimbulkan ketidak harmonisan dalam rumah tangga. Perkawinan merupakan suatu ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk rumah tangga yang bahagia. Sudah menjadi cita – cita setiap insan, baik itu pria maupun wanita, untuk dapat hidup berumah tangga dengan bahagia.[3]

Perkawinan merupakan sunatullah yang umum dan berlaku pada semua makhluk-Nya, baik pada manusia, hewan maupun tumbuh- tumbuhan. Ia adalah suatu cara yang dipilih oleh Allah SWT. Sebagai jalan bagi makhluk-Nya untuk berkembang biak, dan melestarikan hidupnya. Allah SWT. Tidak menjadikan manusia seperti makhluk lainnya, yang hidup bebas mengikuti nalurinya dan berhubungan antara jantan betina secara energik atau tidak ada aturan. Akan tetapi untuk menjaga kehormatan dan martabat manusia, maka Allah SWT . mengadakan hukum sesuai dengan martabat tersebut.

Dengan demikian, hubungan antara laki-laki dan perempuan diatur secara terhormat berdasarkan kerelaan dalam suatu ikatan berupa pernikahan. Bentuk perkawinan ini memberikan jalan yang aman pada naluri seksual untuk memelihara keturunan denagn baik dan menjaga harga diri wanita agar ia tidak laksana rumput yang bisa dimakan oleh binatang ternak manapun dengan seenaknya. Pergaulan suami istri diletakkan dibawah naungan keibuan dan kebapaan, sehingga nantinya dapat menumbuhkan keturunan yang baik dan hasil memuaskan.  Manusia juga diciptakan Tuhan dengan keinginan untuk mempunyai keturunan. Maka melalui perkawinan, keinginan manusia untuk mendapatkan keturunan akan terwujud. Melalui keturunanlah kelanjutan wujud manusia dapat terjamin. Keturunan yang baik dapat diciptakan melalui hidup keluarga yang baik dan perkawinan yang baik pula.


[1] Prof. Dr. Harun Nasution, Islam Rasional Gagasan dan Pemikiran, (Jakarta : MIZAN, Cet I 1995) h. 434

[2] Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta : Diponegoro,  2000) h

[3] Drs. Mustagfiri Asror, Emansipasi Wanita ( Semarang : CV Toha Putra 1983) h. 61

%d bloggers like this: