Ajaran Islam Tentang Aqidah

Islam turun membawa dua aspek ajaran, yaitu aqidah dan syariah. Aspek aqidah merupakan ajaran yang mengatur sistem kepercayaan, yakni mengungkapkan berbagai kehidupan gaib yang harus dipercayai setiap mukmin, dan tidak dianalisis secara nalar oleh karena kehidupan tersebut tidak dapat dijangkau oleh panca indera manusia. Oleh sebab itu seorang muslim hanya dituntut untuk mempercayainya dan mempercayai pembawanya (Rasulullah saw) dan kumpulan informasinya (Al-Qur’an).

Aspek aqidah berperan sebagai landasan serta motivasi dari semua perbuatan lahir, baik perbuatan hukum maupun akhlak. Sementara perbuatan-perbuatan tersebut, merupakan rangkaian amaliyah yang akan diperhitungkan pahalanya kelak dihari perhitungan, untuk menentukan posisi seseorang apakah disurga atau di neraka.[1]

Dengan demikian, objek keyakinan hati atau keimanan tersebut pada umumnya adalah suatu yang gaib, yakni suatu yang ada namun kebenarannya tidak dapat dijangkau dan didefinisikan oleh panca indra dan imajinasi manusia, kecuali unsur-unsur yang nampak, tapi pada segi nsikap untuk menerima segala fungsi dan peranannya untuk kehidupan manusia.

Oleh sebab itu, semua infomasi tentang ajaran aqidah Islam, baik tentang wujud Allah beserta segala atribut-Nya, tentang kerasulan, para malaikat dan fungsi-fungsinya, kitab suci, kehidupan akhirat berupa surga dan neraka berikut prosedur hisabnya, dan tentang qadla dan qadar, di sanpaikan lewat wahyu, karena tanpa informasih seta penegasan dari Allah SWT. Umat manusia tidak akan mengetahui apa-apa tentang ajarannya itu, serta tidak akan menerimanya Dengan suatu keyakinan dan kebenaran semua itu.

Seiring dengan informasi-informasi gaib tersebut, Allah menegaskan perintah-Nya agar orang beriman benar-benar mempercayai Allah dan rasul-nya itu beserta kitab yang di bawahnya, sebagaimana terungkap dalam surah An-Nisa ayat: 136

 Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya.[2]

 Sesuai Dengan ayat diatas, makna semuah orang beriman yakni yang telah menyatakan identitas keberagamaannya sebagai mukmin pengikut ajaran Rasulullah saw, wajib untuk meyakini akan adanya Allah serta semua atribut yang diperkenalkan-Nya dalam Al-Qur’an, meyakini dan menerima kerasulan Muhammad saw. besrta kitab suci yang dibawanya, yang memuat semuah ajaran Islam, termasuk ajaran tentang aqidah.


 [1] Muhammad Al-Ghazali, Aqidah Muslim, terj. Mahyudin Syaf (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, cet. Kelima 1994), h. 11.

 [2] Departemen Agama RI. Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta: Gema Risalah Press Bandung, 1992) h. 102

 

Artikel Terkait:

%d bloggers like this: