Satu lagi Tentang Kecerdasan Spritual

Selama ini ukuran kecerdasan selalu dilihat dari paradigma intelegensi (IQ). Kecerdasan seseorang bisa dilihat dari hasil tes. Angka-angka memainkan peranan penting dalam penilaian siswa. Efeknya siswa yang merasa IQ-nya rendah merasa minder dengan siswa lain yang memiliki IQ tinggi. ketika berbicara tentang kecerdasan, setidaknya hal ini terkait dengan sistem pendidikan. untuk melihat sistem pendidikan negara, kita perlu melihat sejarah. Sistem pendidikan kita selama ini banyak mengadopsi sistem barat. ketika belanda mendirikan lembaga pendidikan, langsung atau tidak langsung membawa budaya dan nilai Eropa. Di Indonesia, nilai tersebut ada yang bisa diadopsi dan ada juga yang perlu ditolak. hal ini dikarenakan perbedaan latar belakang budaya Indonesia dengan bangsa Eropa. dalam hal pendidikan, bangsa Eropa lebih menekankan pada Kecerdasan Intelektual (IQ). Efeknya kecendrungan untuk menilai sesuatu dilandaskan pada rasio saja, tanpa melihat pertimbangan-pertimbangan lain.

Namun, paradigma ini nampaknya harus tergeser ketika fakta menunjukan bahwa kecerdasan inteletual (IQ) tinggi ternyata bukan jaminan bahwa seseorang bisa bersikap dan bertindak secara cerdas. Contoh kecil saja bisa kita baca di koran dan kita lihat ditelevisi. Kasus korupsi, tindakan amoral, dan kriminalitas yang melanda bangsa kita sekarang ini justru dilakukan oleh orang-orang yang mempunyai kecerdasan intelektual (IQ) diatas rata-rata.

Disamping itu, begitu banyak orang yang mempunyai kemampuan intelektual  (IQ) tinggi, seringkali tidak dapat mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapinya dengan baik. Muncul pertanyaan, adakah bentuk kecerdasan lain yang berpengaruh dalam menentukan kesuksesan hidup manusia? Ternyata, kecerdasan intelektual belumlah cukup. Kita masih membutuhkan satu kecerdasan lagi untuk mengimbangi kecerdasan intelektual (IQ) yakni kecerdasan emosi (EQ).

Kecerdasan Emosi adalah sebuah kecerdasan yang bisa memotivasi kondisi psikologis menjadi pribadi-pribadi yang matang. Ia terwujud dalam bentuk kemampuan merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber energi, informasi, koneksi, dan pengaruh manusia. Ia seperti bahan bakar yang menyulut kreativitas, kolaborasi, inisiatif, dan transformasi. Beberapa hasil suvei menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah usaha bukan ditentukan oleh kemampuan teknikal, tetapi lebihpada kemampuan dasar untuk belajar dalam usaha tersebut, seperti kemampuan mendengar dan berkomunikasi lisan, adaptasi,kreativitas, kepercayaan diri, dan ketahanan mental menghadapi kegagalan. Kemampuan akademik, nilai rapor, predikat kelulusan pendidikan tinggi tidak bisa menjadi tolak ukur bagi tingkat keberhasilan kerja dan kinerja seseorang. Inilah yang mendorong beberapa perusahaan besar di negara maju lebih menekankan pada seleksi kecerdasan emosional dalam rekrutmen karyawan.

 EQ mempunyai peranan penting dakam mendukung keberhasilan. Ketika menghadapi tantangan secara pribadi, manusia perlu mengelola emosinya berupa perasaam takut, malas dan tidak percaya diri dan merubahnya menjadi berani, rajin dan percaya diri. Salam kehidupan sehari-hari manusia selalu berinteraksi dengan manusia lain, maka kepekaan terhadap emosi orang lain memberi peran keberhasilan dalam kehidupan bermasyarakat. Seseorang perlu mengembangkan kemampuan bertenggang rasa, berempati, saling memotivasi, hormat, jujur, tegas, dan lainnya. Semua hal tersebut berhubungan dengan kemampuan dan mengelola emosi. Inilah peran kecerdasan emosi.

Apakah kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosi (EQ) sudah cukup ? dua kecerdasan ini ternyata belum cukup untuk membawa diri kita, atau bangsa kita dalam kebahagian dan kebenaran yang hakiki. Kita masih membutuhkan satu kecerdasan lagi untuk mengimbangi dua kecerdasan tadi yakni kecerdasan spiritual (SQ). IQ memang penting kehadirannya dalam kehidupan manusia, yaitu agar manusia dapat memanfaatkan teknologi demi efisiensi dan efektivitasnya. Begitu juga peran EQ yang memegang peraran penting dalam menjalin hubungan antar sesama manusia yang efektif dan perannya dalam meningkat kinerja. Namun tanpa SQ yang mengajarkan nilai-nilai kebenaran, maka keberhasilan itu hanyalah akan menghasilkan firaun-firaun kecil dimuka bumi. Oleh karena itu kita harus bisa mensinergikan ketiga potensi kecerdasan tersebut.

Dalam kaitan ini, Pendidikan yang baik tidak berorientasi kepada pencerdasan kognitif semata, melainkan keseimbangan antara intelektual emosional dan spiritual. Buat apa otak kita cerdas tapi emosi tidak, kalau itu terjadi kita hanya akan meresahkan banyak orang, karena emosi kita tidak terkontrol. Namun, kita bisa lihat bagaimana proses pendidikan ditanah air lebih menekankan kepada satu kecerdasan saja (IQ). Akhirnya pendidikan hanya menciptakan siswa atau mahasiswa yang hanya cerdas disatu sisi saja.

Di Indonesia, dengan model pendidikannya yang berubah setiap kali ganti mentri, pun tidak lepas dari “pendewaan” terhadap kecerdasan matematis dan IQ. Tidak puas dengan penerapan “kecerdasan raport” di pendidikan dasar dan menengah, di bangku kuliah pun “kecerdasan raport” itu dipakai. Padahal, kemampuan  memecahkan masalah—mendidik bagaimana seorang sarjana menjadi seorang problem solver—tidak hanya ditentukan oleh “kecerdasan raport” tersebut.

Pendidikan di Indonesia selama ini, terlalu menekankan arti penting nilai akademik, kecerdasan otak atau IQ saja. Mulai dari tingkat sekolah dasar sampai ke bangku kuliah, jarang sekali ditemukan pendidikan tentang kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual. Padahal jutru inilah hal yang terpenting. Mungkin kita bia melihat hasil dari bentukan karakter dan kualitas sumber daya manusia saat ini yang patut dipertanyakan, yang berbuntut pada krisis ekonomi berkepanjangan yang melanda bangsa kita.

Melalui paradigma di atas, maka penulis memandang kecerdasan spiritual (SQ) sangatlah penting untuk diterapkan dalam dunia pendidikan. Karena dengan adanya kecerdasan spiritual mampu memaknai seluruh fenomena yang ia alami dengan senantiasa berfikir positif dan optimis dalam menghadapi hidup. Dengan kecerdasan spiritual manusia mampu mengetahu suatu kejadian kemudian mengambil hikmah dan pelajaran darinya. Manusia menjadi lebih beradab, manusia lebih bijak karena memiliki kecerdasan ini. Memalui kecerdasan spiritual pula manusia mampu tetap bahagia menuju teraihnya cita-cita. Hasil dari kecerdasan intelektual (IQ) dan kecerdasan emosional (EQ) diberi makna oleh kecerdasan spiritual (SQ).

Artikel Terkait :

Kecerdasan Intelektual vs Kecerdasan Emosi

Kebutuhan Spritual

Telaah Aspek Spritualitas

Kebutuhan Emosional Anak

%d bloggers like this: