Hukuman Fisik Terhadap Siswa, Pantaskah ?

Secara sederhana, pendidikan dapat di artikan sebagai upaya sadar, terarah untuk mendewasakan orang lain. Atau dalam pengertian Malik Fadjar sebagai proses sekaligus sistem yang diarahkan pada pencapaian tujuan tertentu yang diyakini sebagai yang paling ideal bagi kehidupan manusia (Malik Fadjar, 1998). Proses dan sistem merupakan dua sisi yang saling terkait sekaligus saling menopang untuk mencapai tujuan ideal dimaksud. Dalam artian bahwa, proses untuk mendewasakan orang lain akan sangat ditentukan oleh sistem yang dijalankan, demikian pula sebaliknya. Setiap anak yang lahir normal, baik fisik maupun mentalnya, berpotensi untuk menjadi cerdas. Karena memang hal ini dianugerahkan oleh Allah SWT. kepada manusia sebagai bekal dalam mengaktualisasikan dirinya sebagai hamba dan wakil Allah di muka bumi (Suharsono, 2003)

Dari sekian banyak aspek yang sangat menentukan keberhasilan tersebut, sosok guru menempati posisi penting dan pemegang kunci keberhasilan dalam mendewasakan orang lain. Guru kreatif sering merupakan ”person oriented” (berorientasi personal) dalam sikap dan nilai mereka. (Anna Craft, 2000) Begitu pentingnya kedudukan guru, maka Cooper, sebagaimana dikutip oleh Nana Sudjana dalam Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, mengungkapkan empat kemampuan yang harus dimiliki oleh seorang guru, yaitu :

  1. Mempunyai pengetahuan tentang belajar dan tingkah laku manusia,
  2. Mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang studi yang dibinanya,
  3. Mempunyai sikap yang tepat tentang diri sendiri, sekolah, teman sejawat dan bidang studi yang dibinanya, dan
  4. Mempunyai keterampilan teknik mengajar. (Nana Sudjana, 2000)

Dalam konteks ini, Cooper ingin menjelaskan bahwa guru bukan hanya melakukan transformasi ilmu pengetahuan kepada siswa tetapi lebih-lebih lagi kepada upaya menata proses belajar mengajar sehingga menimbulkan semangat dan kegairahan siswa dalam belajar.

Namun kenyataannya, tanggung jawab yang demikian besar, tidak dibarengi oleh kepiawaian seorang guru dalam mengatur proses belajar mengajar. Penampilan guru yang tidak bersahabat  dan ringan tangan membuat suasana belajar menjadi tidak kondusif, dan jauh dari suasana keakraban. Tidak jarang kondisi seperti ini justeru menimbulkan keengganan siswa untuk belajar bahkan bisa saja untuk sekolah.

Fenomena menarik sekaligus memprihatinkan adalah adanya hukuman fisik kepada siswa ketika melakukan suatu kesalahan baik itu berupa mencubit, menampar, menjewer, maupun memukul dengan atau tanpa alat. Walaupun hal ini bukan berarti bahwa semua guru melakukannya, namun diakui atau tidak fenomena ini kian menggejala di kalangan para guru. Sri Esti Wuryani Djiwandono menyatakan bahwa penyiksaan atau hukuman secara fisik adalah perbuatan kekuasaan terhadap orang lain yang mengakibatkan kerusakan dan membahayakan fisik. (Sri Esti Wuryani Djiwandono, 2005)

Muhamad ’Atthiyyah Al-Abrasyi, mengemukakan bahwa ada 3 hal yang harus diperhatikan dalam memberikan hukuman fisik (jasmaniah) terhadap anak, yaitu :

  1. Sebelum berumur 10 tahun, anak-anak tidak boleh dipukul.
  2. Pukulan tidak lebih dari 3 kali. Yang dimaksud dengan pukulan disini ialah dengan menggunakan lidi atau tongkat kecil bukan dengan tongkat besar.
  3. Diberikan kesempatan besar kepada anak-anak untuk tobat dari apa yang ia lakukan dan memperbaiki kesalahannya tanpa perlu menggunakan pukulan atau merusak nama baiknya (menjadikan ia malu). (Muhamad ’Atthiyyah Al-Abrasyi, At-Tarbiyyah Al-Islamiyyah, 2003)

2 Comments

  1. Abang Bentor said,

    March 19, 2012 at 3:26 pm

    salam kenal,,,

  2. Abang Bentor said,

    March 19, 2012 at 3:27 pm

    kunjung,, blk


%d bloggers like this: