Tinjauan Umum Tentang Konseling

Secara etimologis, istilah konseling berasal dari bahasa  latin, yaitu “Consilium” yang berarti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai dengan “menerima” atau “memahami”. Sedangkan dalam dalam bahasa  Anglo-saxon, istilah konseling berasal dari “sellan” yang berarti “menyerahkan” atau “menyampaikan” (Priyanto, 1994). Hallen, mengatakan bahwa istilah konseling berasal dari bahasa Inggeris “to counsel” yang secara etimologis berarti “to give advice” yang artinya memberi saran atau nasihat. (Hallen, 2002) Lebih lanjut lagi, Rogers, dikutip dari Hallen mengemukakan pengertian Konseling, adalah serangkaian hubungan langsung dengan individu yang bertujuan untuk membantu dia dalam merubah sikap dan tingkah lakunya. Selanjutnya ada beberapa rumusan pengertian Konseling berdasarkan perkembangan sejumlah rumusan konseling menurut Jones, yang dikutip dari dasar – dasar bimbingan dan konseling sebagai berikut :

Konseling adalah kegiatan dimana semua fakta dikumpulkan dan semua pengalaman siswa difokuskan pada masalah tertentu untuk diatasi sendiri oleh yang bersangkutan, dimana ia diberi bantuan pribadi dan langsung dalam pemecahan masalah itu. Konselor tidak memecahkan masalah untuk klien. Konseling harus ditunjukkan pada perkembangan yang progresif dari individu untuk memecahkan masalah-masalah sendiri tanpa bantuan. Maclean, dikutip dari dasar–dasar bimbingan dan konseling, memberikan defenisi konseling sebagai suatu proses yang terjadi dalam hubungan tatap muka antara seorang individu yang terganggu oleh karena masalah – masalah yang tidak dapat diatasi sendiri dan seorang pekerja yang professional, yaitu orang yang terlatih dan berpengalaman membantu orang lain mencapai pemecahan-pemecahan terhadap berbagai jenis kesulitan pribadi.

            H.M Arifin, mengemukakan defenisi konseling adalah : ‘Konseling adalah inti dari proses bimbingan. Sehingga konseling adalah proses pemberian bantuan yang mendasar kepada murid yang sedang berusaha memecahkan masalah atau problema yang dihadapi’.

            Menurut James F. Adams dikutip dari H. M Umar dan Sartono, konseling adalah :”Suatu pertalian timbal balik antara dua orang individu dimana yang seorang (counselor), membantu yang lain (conselee) supaya ia dapat lebih memahami dirinya dalam hubungan dengan masalah – masalah hidup yang dihadapinya waktu itu dan pada waktu yang akan datang. (H. M Umar dan Sartono, 1998)

            Sedangkan H. Kestur Partowisastro menyebutkan defenisi konseling dalam dua hal pengertian yaitu :

  1. Dalam arti luas. Konseling adalah segala ikhtiar pengaruh psikologis terhadap sesama manusia.
  2. Dalam arti sempit. Konseling merupakan suatu hubungan yang sengaja diadakan dengan manusia lain, dengan maksud agar dengan berbagai cara psikologis, kita dapat mempengaruhi beberapa facet kepribadiannya sedemikian rupa sehingga dapat diperoleh sesuatu efek tertentu.

Dengan demikian, berdasarkan uraian defenisi di atas dapatlah disimpulkan, defenisi konseling secara sederhana yaitu :

            “ Konseling adalah bantuan yang diberikan kepada anak (counselee) dalam memecahkan masalah-masalah kehidupan dengan wawancara yang dilakukan secara face to fece, atau dengan cara-cara yang sesuai dengan keadaan klien (counselee)  yang dihadapi untuk mencapai kesejahteraan hidupnya”.

Dalam pengertian lain pula menurut Pepinsky & Pepinsky mengemukakan defenisi konseling, yakni interaksi yang terjadi antara dua orang individu, masing-masing disebut konselor dan klien terjadi dalam suasana yang professional dilakukan dan dijaga sebagai alat memudahkan perubahan – perubahan dalam tingkah laku klien. Ditambahkan pula bahwa konseling juga merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-hambatan perkembangan dirinya, dan untuk mencapai perkembangan optimal kemampuan pribadi yang dimilikinya. Proses tersebut dapat terjadi setiap waktu.

Sebagai kesimpulan dari beberapa defenisi konseling diatas yakni, konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan secara tatap muka antara dua orang, dalam mana konselor melalui hubungan itu dan kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, menyediakan situasi belajar dalam mana konseling dibantu untuk memahami diri sendiri, keadaannya sekarang, dan kemungkinan keadaan masa depan, yang dapat ia ciptakan dengan menggunakan potensi-potensi yang dimilikinya, demi untuk kesejahteraan baik pribadi maupun masyarakat, dan lebih jauh lagi dapat belajar bagaimana memecahkan masalah-masalah dan menemukan kebutuhan–kebutuhan yang akan datang.

Hal – hal pokok yang terkandung dalam masing-masing defenisi di  atas mengandung masing-masing rumusan konseling. Menurut pendapat Jones rumusan – rumusan defenisi konseling sebagai berikut :

  1. Konseling terdiri atas kegiatan : Pengungkapan fakta atau data tentang siswa, serta pengarahan kepada siswa, untuk dapat mengatasi masalah-masalah yang dihadapinya.
  2. Bantuan itu diberikan secara langsung kepada siswa.
  3. Tujuan Konseling agar siswa dapat mencapai perkembangan yang semakin baik, semakin maju.

Selanjutnya rumusan dari defenisi konseling  dari Maclean, yakni :

  1. Konseling merupakan suatu proses pemberian bantuan
  2. Dilakukan dalam suasana hubungan tatap muka
  3. Individu yang di konseling adalah adalah individu yang sedang mengalami gangguan atau masalah.
  4. Terlatih baik dan telah memiliki pengalaman
  5. Bertujuan untuk mengatasi suatu masalah / gangguan.
  6. Selanjutnya rumusan dari defenisi konseling menurut Pepeinsky & Pepeinsky,  adalah :
  7. Konseling merupakan proses interaksi antara dua orang individu
  8. Dilakukan dalam suasana professional
  9. Berfungsi dan bertujuan sebagai alat (wadah) untuk memudahkan perubahan tingkah laku klien.

Dengan memperhatikan satu – persatu rumusan – rumusan yang disajikan di atas, terlihat perubahan-perubahan dalam konsep tentang konseling sebagai berikut :

  1. Rumusan yang paling awal lebih menekankan pada masalah-masalah kognitif ( yaitu membuat interpretasi-interpretasi tentang data atau fakta ) sedangkan defenisi mutakhir lebih menekankan pada pengalaman – pengalaman afektif (menetapkan beberapa makna terhadap  perilaku).
  2. Rumusan yang lebih awal pada umumnya mengidentifikasi konseling sebagai hubungan empat mata (antara seorang konselor dengan seorang klien), sedangkan pada defenisi yang mutakhir dimungkinkan diselenggarakan konseling.
  3. Semua rumusan, baik langsung ataupun tidak langsung, menyatakan bahwa konseling adalah suatu proses. Ini berarti bahwa konseling bukanlah kejadian tunggal tetapi melibatkan tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian yang esensial menuju kearah pencapaian suatu tujuan.
  4. Rumusan-rumusan itu pada umumnya memperlihatkan bahwa hubungan dalam  konseling ditandai oleh adanya kehangatan, pemahaman, penerimaaan, kebebasan dan keterbukaan.
  5. Sebagian dari defenisi itu menggambarkan orang-orang yang terlibat dalam kegiatan konseling (Konselor dan Klien) konselor sebagai Ahli, sebagai orang yang lebih tua, sebagai orang yang lebih matang, sebagai orang yang memiliki pengetahuan,sedangkan klien sebagai orang yang sedang mengalami gangguan, masalah, kebingungan atau frustrasi.
  6. Hampir semua rumusan konseling menyatakan bahwa pengaruh dari konseling adalah peningkatan atau perubahan dalam tingkah laku klien.

Kendatipun dikemukakan dengan cara dan gaya yang berbeda-beda namun diantara berbagai rumusan itu terdapat beberapa kesamaan, kesamaan itu menyangkut cirri-ciri pokok berikut ini :

  • Konseling melibatkan dua orang yang saling  berinteraksi dengan jalan mengadakan komunikasi langsung, mengemukakan dan memperhatikan dengan saksama isi pembicaraan, gerakan-gerakan isyarat, pandangan mata, dan gerakan0gerakan lain dengan maksud untuk meningkatkan pemahaman kedua belah pihak yang terlibat dalam interaksi itu.
  • Model interaksi di dalam konseling itu terbatas pada dimensi verbal, yaitu konselor dan klien saling berbicara. Klien berbicara tentang pikiran-pikirannya, tentang perasaan-perasaannya, tentang perilaku – perilakunya dan banyak lagi tentang dirinya. Di pihak lain, konselor mendengarkan dan menanggapi hal – hal yang dikemukakan oleh klien dengan maksud agar klien memberikan reaksinya dan berbicara lagi lebih lanjut.  Keduanya terlibat dalam memikirkan, berbicara dan mengemukakan gagasan – gagasan yang akhirnya bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien.
  • Tujuan dari hubungan konseling adalah terjadinya perubahan tingkah laku klien, konselor memusatkan perhatiannya kepada Klien dengan mencurahkan segala daya dan upayanya demi perubahan pada diri klien, yaitu perubahan kearah yang lebih baik, teratasinya masalah-masalah yang dihadapi klien.
  • Konseling merupakan proses  dinamis, dimana individu klien dibantu untuk dapat mengembangkan dirinya, mengembangkan kemampuan-kemampuannya dalam menghadapi masalah-masalah yang sedang dihadapi.

Berdasarkan cirri-ciri pokok uraian diatas maka dirumuskan bahwa, defenisi singkatnya konseling adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli yang (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (disebut Klien) yang bermuara pada teratasinya masalaha yang dihadapi oleh klien.

%d bloggers like this: