Daya Nalar dalam Dunia Pendidikan

Daya nalar merupakan satu istilah yang sudah lumrah dalam dunia pendidikan. Karena setiap aktivitas yang berhubungan dengan proses pembelajaran pasti di dalamnya terdapat istilah daya nalar atau juga sering diistilahkan dengan daya serap. Bahkan lebih jauh lagi dapat diketahui bahwa melalui daya nalar inilah maka seorang anak dapat diukur tingkat kemampuan intelegensinya atau tingkat prestasi belajar yang diraihnya, semakin baik daya nalarnya dalam mencermati materi-materi yang diajarkan oleh guru, maka semakin mudah bagi mereka untuk memahami makna apa yang terkandung dibalik disiplin yang sedang dipelajarinya. Sebaliknya lemahnya daya nalar seseorang akan berpengaruh terhadap kesulitan mereka menelaah setiap materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru.
Berangkat dari uraian seperti itulah secara umum dapatlah dikatakan bahwa daya nalar adalah suatu kemampuan intelegensi atau kemampuan akal manusia dalam mencerna segala rangsangan yang terjadi dari luar dirinya, dimana rangsangan tersebut kemudian lewat pencerahan dalam akal dapat menjadi suatu kerangka dasar pengetahuan yang menjadi landasan berpijak bagi setiap pembelajar. Isitilah daya nalar terdiri dari dua istilah yang masing-masing memiliki makna tersendiri, yakni daya dan nalar, atau daya serap. Untuk menambah wawasan berpikir tentang apa sesungguhnya yang dimaksudkan dengan daya nalar akan dikemukakan berikut ini.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia daya diartikan sebagai “kekuatan, pengaruh, usaha dan ikhtiar”, (W.J.S. Poerwadarminta, 1976) sedangkan nalar adalah pertimbangan baik atau buruk, akal budi”.

Dari pengertian kedua istilah tersebut, maka daya nalar dapat diartikan sebagai kekuatan atau usaha untuk melakukan sesuatu berdasarkan pertimbangan baik dan buruk oleh akal. Artinya bahwa daya nalar adalah kesanggupan seseorang untuk melakukan sesuatu sesuai dengan akal pikirannya. Pemahaman ini barangkali masih bersifat umum. Sebab ketika daya nalar dikaitkan dengan proses pembelajaran, maka maknanya akan mengkhusus kepada kesanggupan seseorang dalam memanfaatkan akal pikirannya untuk memberikan makna atau menganalisa setiap apa yang telah diterimanya dari guru. Hal ini identik dengan pendapat berikut yang memberikan batasan pengertian tentang daya nalar yaitu : Daya nalar diartikan sebagai kemampuan menangkap arti dan makna tentang hal yang dipelajari. (Mudjiono, 2002). Dalam pengertian tersebut, maka daya nalar adalah kemampuan siswa sebagai objek didik dalam rangka menerima pesan-pesan ilmu yang disampaikan oleh guru. Artinya bahwa daya nalar merupakan kemampuan siswa dalam mensinergikan seluruh potensi indranya untuk mencermati materi-materi pelajaran yang disampaikan oleh guru. Pendapat tersebut indenti dengan pengertian intelegensi yang dikemukakan oleh H. Paimun yakni kemampuan individu untuk berpikir secara abstrak, menggunakan simbol-simbol abstrak dalam pemecahan berbagai masalah. (H. Paimun, 1998). Dengan demikian, maka daya nalar atau daya serap ini terkait dengan kemampuan guru dalam mendisain model-model pembelajaran, semakin baik sistem yang terapkan guru, maka akan semakin baik pula daya nalar siswa terhadap apa yang diajarkannya. Sebalinya, kesalahan sistem akan mengurai tingkat daya nalar siswa. Karena daya nalar ini akan terkait dengan aspek intelektual dan aspek mental emosional.

%d bloggers like this: