Sedikit Tentang Makna Hidup dan Logoterapi

Makna Hidup dan Logoterapi

Makna hidup adalah hal-hal khusus yang dirasakan penting dan diyakini sebagai sesuatu yang benar serta layak dijadikan sebagai tujuan hidup yang harus diraih. Makna hidup ini bila berhasil dipenuhi akan menyebabkan kehidupan seseorang dirasakan penting dan berharga yang pada gilirannya akan menimbulkan penghayatan bahagia (Bastaman, 2000 : 73). Frankl mengartikan makna hidup sebagai kesadaran akan adanya satu kesempatan atau kemungkinan yang dilatarbelakangi oleh realitas atau menyadari apa yang bisa dilakukan pada situasi tertentu (Frankl, 2004 : 221)

Adanya suatu dorongan fundamental yang dimiliki oleh manusia, yaitu kehendak untuk memaknai hidup. Pencarian manusia mengenai makna hidup merupakan kekuatan utama dalam hidup dan bukan merupakan suatu ”rasionalisasi sekunder” dari bentuk insting-insting. Makna tersebut bersifat unik dan spesifik yang hanya dapat diisikan oleh dirinya sendiri, karena hanya dengan cara-cara tersebut seseorang akan mendapatkan sesuatu yang penting yang akan memuaskan keinginan manusia untuk memaknai hidup (Frankl, 2003 : 110)

Logoterapi dengan konsep keinginan akan makna memiliki komitmen dengan fenomenologi Scheler, sekaligus dengan konsep kebebasannya menunjukan komitmen dan eksistensialisme. Sesuai dengan akar kata “Logos” yang dalam bahasa Yunani berarti “Meaning”(makna) dan juga “Spirituallity” (Keruhanian) maka Logoterapi adalah aliran psikologi atau psikiatri yang mengakui adanya demensi keruhanian disamping dimensi-dimensi ragawi kejiwaan dan lingkungan social budaya, serta beranggapan bahwa kehendak untuk hidup bermakna (the Will to the Meaning) merupakan dambaan utama manusia untuk meraih kehidupan yang dihayati bermakna (The Meaningfull Life). Dengan jalan menemukan sumber-sumber makna hidup dan merealisasikannya (Bastaman, 1995 : 193 – 194)

Tepatnya logoterapi memiliki tiga konsep yang menjadi landasan filosofinya yakni kebebasan berkeinginan, keinginan akan makna dan makna hidup (Koeswara, 1992 :46) :

  • Kebebasan Berkeinginan. Dalam pandangan Frankl, kebebasan termasuk kebebasan berkeinginan adalah ciri yang unik dari keberadaan pengalaman manusia (Koeswara, 1987 : 37). Frankl mengakui kebebasan manusia sebagai mahluk yang terbatas, adalah sebagai kebebasan didalam batas-batas. Manusia tidaklah bebas dari kondisi – kondisi biologis, psikologis dan sosiologis akan tetapi manusia berkebebasan untuk mengambil sikap terhadap kondisi – kondisi tersebut (Koeswara, 1992 : 46)
  • Keinginan akan Makna. Frankl (dalam Koeswara, 1987 : 38) mengawali gagasannya mengenai keinginan akan makna dengan mengkritik prinsip kesenangan dari Freud dan keinginan pada kekuasaan (The Will to Power) dari Adler sebagai konsep yang terlalu menyederhanakan fenomena keberadaan dan tingkah laku manusia. Menurut Frankl, kesenangan dan kekuasaan bukanlah tujuan utama, melainkan efek yang dihasilkan oleh tingkah laku dalam rangka pemenuhan diri (Self – Fullfillment) yang bersumber pada atau diarahkan oleh keinginan kepada makna. Kesenangan adalah efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan prasarat bagi pemenuhan makna menyebabkan arti yang kita cari memerlukan tanggung jawab pribadi tidak ada orang atau sesuatu yang lain, bukan orang tua, partner, atau bangsa dapat memberi kita pengertian tentang arti dan maksud dalam kehidupan kita. Tanggung jawab kitalah untuk menemukan cara kita sendiri dan tetap bertahan didalamnya segera setelah ditemukan (Scultz, 1991 : 151). Frankl menambahkan bahwa tegangan yang dialami manusia bukanlah semata-mata tegangan yang ditimbulkan oleh naluri – naluri melainkan tegangan antara keberadaan dan hakikat atau tegangan antara ada dan makna. Karena itukah orientasi atau keinginan yang utama yang tidak pernah padam pada manusia.
  • Makna Hidup.Makna hidup adalah hal – hal yang oleh seseorang dipandang penting, dirasakan berharga dan diyakini sebagai sesuatu yang benar serta dapat dijadikan tujuan hidupnya (Bastaman, 1995 : 1994) manusia bisa (berpeluang) menemukan makna hidup atau membuat hidupnya bermakna sampai nafasnya yang terakhir.

Individu hanya bisa menemukan makna dari hidupnya dengan merealisasikan tiga nilai yang ada yaitu :

  1. Nilai – nilai Daya Cipta atau Kreatif. Nilai- nilai kreatif dalam wujud kongkritnya muncul berupa pelaksanaan aktivitas kerja menurut Frankl (dalam Koeswara, 1992 : 63) setiap bentuk pekerjaan bisa mengantarkan individu kepada hidup (kehidupan diri dan sesama) yang didekati secara kreatif dan dijalankan sebagai tindakan komitmen pribadi yang berakar pada keberadaan totalnya. Nilai kreatif yang direalisasikan dalam bentuk aktivitas kerja menghasilkan sumbangan bagi masyarakat. Komunitas atau masyarakat pada gilirannya mengantarkan individu pada penemuan makna.
  2. Nilai – nilai Pengalaman. Menurut Bastaman (1995 : 195) hal ini meliputi meyakini dan menghayati kebenaran, kebajikan, keindahan, keadilan, keimanan dan nilai – nilai yang dianggap berharga.
  3. Nilai – nilai Sikap. Frankl menyebut nilai ke tiga ini sebagai nilai yang paling tinggi, dengan merealisasikan nilai bersikap ini berarti individu menunjukan keberanian dan kemuliaan menghadapi penderitaanya. Frankl menekankan bahwa penderitaannya itu memiliki makna pada dirinya ketika menderita karena sesuatu, individu bergerak kedalam menjauhi sesuatu itu. membentuk suatu jarak diantara kepribadiannya dan sesuatu itu. Penderitaan menurut Frankl memiliki makna ganda, membentuk karakter sekaligus membentuk kekuatan dan ketahanan diri. Menurut Frankl, esensi suatu nilai bersikap terletak pada cara yang dengannya seseorang secara ikhlas dan tawakal menyerahkan dirinya pada suatu keadaan yang tidak bisa dihindarinya.

Frankl menyimpulkan bahwa hidup bisa dibuat bermakna melalui 3 jalan :

  • Melalui apa yang kita berikan kepada hidup (kerja kreatif)
  • Melalui apa yang kita ambil dari hidup (menemui keindahan, kebenaran dan cinta)
  • Melalui sikap yang kita berikan terhadap ketentuan atau nasib yang bisa kita ubah

Sedangkan menurut Bastaman (1995 : 1996), mereka yang menghayati hidup bermakna menunjukan corak kehidupan yang penuh gairah dan optimisme dalam menjalani kehidupan sehari – hari. Tujuan hidup baik jangka pendek maupun jangka panjang jelas bagi mereka. Dengan demikian kegiatan – kegiatan mereka menjadi lebih terarah dan lebih mereka sadari, serta merasakan sendiri kemajuan – kemajuan yang telah dicapai.

Makna hidup seperti yang dikonsepkan Frankl (dalam Bastaman 1995 : 194 – 195) memiliki beberapa karakteristik, diantarannya :

  1. Makna hidup itu sifatnya unik dan personal, sehingga tidak dapat diberikan oleh siapapun melainkan harus ditemukan sendiri
  2. Makna hidup itu spesifik dan kongkrit, hanya dapat ditemukan dalam pengalaman dan kehidupan nyata sehari – hari, serta tidak selalu harus dikaitkan dengan tujuan idealistis maupun renungan filosofis.
  3. Makna hidup memberikan pedoman dan arah terhadap kegiatan – kegiatan yang dilakukan
  4. Makna hidup diakui sebagai sesuatu yang bersifat mutlak, sempurna dan paripurna.
%d bloggers like this: