Akhlak dan Perilaku Anak

Pembinaan Akhlak dan Perilaku Anak

Berbicara tentang akhlak anak atau Perilaku anak jelaslah itu memiliki hubungan dengan pribadi atau diri manusia, Sigmund Freud  sebagaimana dikutip oleh Mudlor Ahmad bahwa pribadi manusia mempunyai 3 unsur kepribadian yaitu; Id, Ego, dan Superego, untuk lebih jelasnya ketiga unsur tersebut, yaitu:

  1. Id, adalah sumber segala naluri atau nafsu. Semuanya berada dalam alam ketidak sadaran (bawah sadar). Tujuannya adalah pemuasan jasmaniah. Jadi yang menjadi prinsip baginya adalah kesenanagan. Dia tidak mengenal nilai, terutama, nilai moral. Olehnya ia disebut bersifat “inmoral”.
  2. Ego, ialah tempat dimana segala daya-daya yang datang dari “Id”  maupun “Superego” dianalisa, dipertimbangkan, kemudian ditiadakan atau ditindakkan. Dia merupakan pihak pengontrol agar keseimbangan pribadi seseorang tetap ada. Jadi di sini seseorang itu sadar terhadap kemauan-kemauan Id atau Superego.  Sebagai pengontrol, maka ia tak dapat tidak memperhatikan dan memperhitungkan realitas dunia luar.
  3. Seperego, adalah sumber nilai, termasuk nilai moral. Di sini  ia pun sebagaimana Id, berada dalam alam bawah sadar. Hanya saja ia lebih menuju ke arah prinsip kesempurnaan rohaniah. Karenanya ia bersifat idiil (Amru Khalid, 2005)

Dengan demikian, dalam diri seseorang yang berkepribadian sehat, ketiga sistem kepribadian ini  bekerja secara harmonis. Bila terjadi pertentangan-pertentangan akibat dorongan Id ataupun Superego, sedangkan ego tak mampu mengatasi,   maka   akan  hilang  keseimbangan  diri  seseorang,  dan  disitu  akan lahir   mengatasi, maka akan hilang keseimbangan diri seseorang, dan disitu akan lahir gejala-gejala abnormal.

Baik  Id,   Ego   maupun   Superego,   masing-masing   mempunyai   daya-daya pendorong  yang  disebut  “cathexis”.  Sedangkan  untuk Ego dan Superego juga memiliki daya penahan yang disebut anti-cathexis. Daya-daya ini dapat pula disebut sebagai “kehendak”. Kehendak inilah yang mula-mula menimbulkan kegoncangan dalam keseimbangan pribadi, yang menjelma dalam bentuk pertentaangan.

Dalam ajaran Islam di tunjukkan bahwa pada diri manusia, di samping ada yang disebut  “nafsu” yang disebut “Id”,  “aqlu” yang dinamakan  “Ego”, dan “qolbu” yang disejajarkan dengan “Superego”, masih ada lagi satu unsur rohaniah yang disebut “ruh”. Ruh ini bekerja secara mutlak, ttidak kenal kompromi, Dia tetap terjaga dari noda, walaupun suatu ketika qolbu jatuh dalam tarikan nafsu,  namun ruh tetap bertahan dan mencela kelemahan qolbu tersebut,  dengan jalan menyalurkan sinar yang disebut “Nur Ilahi” kepada qolbu, yaitu sinar yang dipancarkan Allah untuk kemudian ditangkap dan diserap oleh ruh. Perasaan berdosa adalah merupakan hukuman yang ditiupkan ruh terhadap qolbu karena keteledorannya.

Jadi, unsur kepribadian manusia menurut Islam, terdiri nafsu, akal, qolbu, dan ruh. Berbeda dengan pendapat Sigmund, yang mengatakan bahwa unsur kepribadian manusia hanya tiga. Berdasarkan unsur kepribadian menurut Islam tersebut, maka pada  diri   manusia   terdapat  ruh  yang   selalu  dan tidak pernah berhenti menggiring manusia dengan kebenaran Ilahi. Sedangkan unsur kepribadian menurut Sighmund, bahwa yang tertinggi adalah Superego atau qolbu yang dalam Islam masih dapat dipengaruhi oleh nafsu. Unsur ruh inilah yang menjadikan manusia  dapat membedakan  mana  yang  baik dan  yang  buruk,  sebagaimana  dalam  firman  Allah berikut;

Artinya: “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),  Maka Allah   mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (Q.S. As-Syams: 7-8)

Berdasarkan ayat tersebut, menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang dapat membedakan mana yang baik dan salah, dibandingkan dengan makhluk lain. Potensi tersebut merupakan fitrah manusia [baca juga: fungsi fitrah] yang diberikan unsur ruh oleh Allah. Sehingga siapapun manusia, orang yang jahat sekalipun tetapt dalam sanubarinya yang paling dalam tetap mengenal yang baik dan yang benar.

Dengan demikian manusia menurut Islam, sebagai sebuah wujud yang mempunyai karakteristik dan tabiat fitriah yang merupakan sifat khas manusia. Di samping itu, manusia juga memiliki beberapa sifat jasmaniah seperti binatang seperti; makan, minum, tempat tinggal, dan seks. Namun,  semua tututan dasar tersebut bagi manusia bukan yang utama.  Sebab,  tutuntan  yang  mendasar  manusia   secara  rohaniah adalah nalar dan spiritual,   antara   lain;   keimanan,   kebebasan   berpikir,    keinginan   dan   memilih merupakan kebutuhan mendasar bagi manusia, sama seperti halnya kebutuhan jasmaniah. Jenis kebutuhan yang bersifat  rohaniah harus didahulukan dari kebutuhan jasmaniah, karena kebutuhan rohaniah merupakan nilai plus bagi manusia atas binatang. Di samping itu, bahwa dalam ajaran Islam yang membedakan antara manusia dan makhluk lain adalah  unsur rohaniah. Manusia dan binatang serta makhluk lainnya sama-sama mempunyai kesamaan dalam kebutuhan dasar yang bersifat jasmaniah, yaitu makan, minum, tempat tinggal  dan seks. Namun, satu hal yang tidak dimiliki oleh binatang ketimbang manusia adalah unsur rohaniah  dengan tuntutan dasarnya adalah nalar dan spiritual (akal dan rasa keberagamaan). Jadi, dapat dipahami bahwa yang membedakan antara manusia dengan makhluk lain adalah terletak pada akal dan keberagamaan. Dengan kata lain, yang membedakan manusia dengan makhluk lain adalah, bahwa manusia dikarunia Allah akal dan  keimanan (agama), sedangkan makhluk lain seperti binatang tidak mempunyai kebutuhan yang bersifat rohaniah. Keharusan mendapatkan pembinaan akhlak dan kepribadian itu mengandung aspek-aspek kepentingan yang antara lain dapat dikemukakan sebagai berikut;

  1. Aspek paedagogis, yaitu manusia adalah sebagai animal educandum: yakni makhluk yang memerlukan pendidikan. Dalam hal ini Islam mengajarkan bahwa setiap manusia yang baru lahir membawa berbagai potensi yang selanjutnya apabila potensi tersebut dididik dan dikembangkan, maka akan ia akan menjadi manusia yang secara fisik danm mental memadai.
  2. Aspek Sosiologis dan Kultural, yaitu bahwa mnusia adalah makhluk yang berwatak dan berkemampuan dasar atau yang memiliki garizah (instink) untuk hidup bermasyarakat. Sebagai makhluk sosial, maka manusia harus memiliki rasa tanggung jawab sosial  yang diperlukan dalam mengembangkan hubungan timbal balik (inter relasi) dan saling mempengaruhi antar sesama anggota masyarakat dalam kesatuan hidup yang harmonis.
  3. Aspek Tauhid, yaitu aspek pandangan yang mengakui bahwa manusia itu adalah makhluk yang berketuhanan  yang disebut homo divinous (makhluk yang percaya adanya Tuhan)  atau disebut juga homo relegius artinya makhluk yang beragama. Dengan demikian pendidikan Islam mutlak dibutuhkan untuk mengembangkan  instink religius  tersebut. Hal itu sesuai dengan firman Allah;

Artinya: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan Lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”(Q.S. Ar-Rum:30)

Manusia yang membawa kemungkinan untuk berkembang, baik jasmani maupun rohani.  Untuk itu, jasmani maupun rohani  mempunyai kebutuhan untuk pemeliharaan.  Selain kebutuhan jasmani yang mempunyai kebutuhan makan,dan sebagainya, manusia juga mempunyai kebutuhan rohani  seperti kebutuhan akan ilmu pengetahuan  duniawi dan keagamaan, nilai-nilai kemasyarakatan, kesusilaan, dan lain-lain. Dengan demikian, dibutuhkan upaya untuk membimbing, menuntun, serta memenuhi kebutuhan manusia khususnya dalam hal akhlak dan budi pekerti manusia.

Ngintip Tetangga :

Nokia Dengan Tampilan Iphone dan Android

Penggalan Rasa

Masked Rider 555

Ost. City Hunter – Lonely Day – J-Symphony ( Lyric )

I Love You

Valentino Rossi Untuk Musim 2012

5 Comments

  1. March 5, 2012 at 10:14 am

    Bahkan orang yang paling jahat pun mengharapkan orang lain tidak jahat kepadanya. Itu membuktikan bahwa manusia pada dasarnya memilki fitrah untuk kembali kepada kebenaran dan kedamaian. Untuk itulah kita tidak boleh membenci seseorang yang berbuat kesalahan, seburuk apapun itu. Yang boleh kita benci adalah perbuatannya, bukan orangnya.🙂

  2. Eko Wardoyo said,

    March 5, 2012 at 2:13 pm

    wah berati yang merasakan dan mebedakan antara baik dan jahat adalah ruh ya🙂

    hal ini sama gak ya seperti si ijo merah dan hitam di kisahnya falzart plain🙂

    wahh terima kasih udah ngintip rumah saya – sudah jangan malu malu ayo mampir hehehehe🙂

  3. dewasastra said,

    March 5, 2012 at 2:17 pm

    Ok deh… hhe..ehh….😀😀😀

  4. March 6, 2012 at 2:14 am

    […] muslim, dengan demikian akan dapat menentukan kualitas dirinya/akhlak dan perilaku [baca juga: Akhlak dan Perilaku Anak] sebagai seorang muslim. Rate this: Share this:Like this:LikeBe the first to like this post. […]

  5. gundam said,

    March 10, 2012 at 2:27 pm

    thanks.very good blog and very good share.


%d bloggers like this: