Relevansi Fitrah Dengan Kreatifitas Manusia

Tujuan syari’at Islam adalah tercapainya keseimbangan antara potensi jasmani dan  rohani, agar keduanya dapat didayagunakan secara maksimal, tanpa mengurangi, melebihkan, atau mengutamakan hak salah satu potensi. Setiap upaya  pemandulan  salah satu potensi sama dengan dengan upaya reduksi, dan setiap melebihkan salah satunya sama dengan upaya penghancuran. Jadi, tujuan Allah  menjadikan bumi dan langit serta isinya, juga hukum-hukumnya adalah supaya tercipta kehidupan yang harmonis. Manusia sebenarnya merupakan “hewan plus”, yang memiliki kebutuhan hewaniah,   tetapi   manusia   memiliki   nilai   tambah   tersendiri.  Tuntutan-tuntutan hewaniah bukanlah tuntutan mendasar yang harus diutamakan dan dikedepankan ketimbang tuntutan-tuntutan rohaniah, seperti anggapan mereka yang menganut paham materialisme. Anggapan bahwa manusia hanyalah hewan yang berevolusi dari bentuk hewan lainnya merupakan asumsi yang dipropanggandakan oleh kaum marxis. Paham ini menyatakan bahwa tuntutan mendasar manusia adalah makan, minum, tempat tinggal dan seks. Hal ini memang tuntutan  mendasar, namun bagi hewan. Tidak ada teori yang menempatkan manusia  begitu rendah selain teori ini. Teori ini tidak memberi batas pemisah antara manusia dengan binatang.  Teori ini telah menghancurkan keyakinan keagamaan yang merupakan bagian inheren manusia semenjak dilahirkan. Jadi, marxisme telah meluputkan hak-hak asazi manusia berupa kebebasan berpikir, berpendapat, memilih jenis pekerjaan dan tempat tinggal, dan untuk mengkritik sistem, pemikiran, dan ideologi yang sesat. Semua ini  dikarenakan manusia, dalam pandangan filsafat materialisme, tak lebih dari jenis binatang hasil evolusi dari jenis binatang lainnya. Mereka menyebut teori tentang manusia ini dengan istilah “Sosialime Ilmiah”. (Ahmad Fa’iz, 2002)Fitrah manusia menurut Islam, adalah sebuah wujud yang mempunyai karakteristik dan tabiat yang merupakan sifat khas manusia. Di samping itu, manusia juga memiliki  beberapa sifat jasmaniah seperti binatang. Tuntutan  mendasar manusia   amat    berbeda   dan   bernilai  tambah dibandingkan dengan tuntutan hewan.  Makan, minum, tempat tinggal, dan seks bukanlah tuntutan mendasar manusia yang dapat menomor duakan tuntutan nalar dan spiritual. Keimanan, kebebasan   berpikir,  berkeinginan,   dan  memilih  merupakan  kebutuhan  mendasar manusia, sama seperti halnya kebutuhan akan makan, minum, tempat tinggal, dan bagi seks. Jenis kebutuhan  rohaniah bahkan harus lebih didahulukan ketimbang kebutuhan jasmaniah, sebab kebutuhan rohaniah merupakan nilai plus manusia atas binatang. (Ahmad Fa’iz, 2002) Kaitannya  dengan kreativitas manusia, fitrah manusia dalam Islam sebagaimana telah disinggung di atas salah satunya adalah kebebasan berpikir dan berkeinginan. Dalam perspektif Qur’an sebagai pedoman utama ajaran Islam secara jelas telah mendekritkan hak kebebasan itu harus ada, dalam arti bahwa manusia mempunyai hak pilihan moral bebas dan hak kemauan bebas di atas teater kehidupan.  Dengan kata lain, pilihan bebas dan kemauan bebas merupakan bagian dari konstitusi kemanusiaan itu sendiri. (Ahmad Syafii Maarif, 1995) Berkaitan dengan pilihan  bebas atau kebebasan  manusia ini, Al-Qur’an  dengan bahasa yang lantang menegaskan terlarangnya orang Islam memaksa pihak lain agar menjadi muslim, sebagai dalam surat Al-Baqarah: 256 sebagai berikut;

 Artinya: “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam);…...

Bahkan nabi Muhammadi sendiri “diancam” oleh Allah sekiranya beliua punya gagasan untuk memaksa pihak lain menjadi pengikutnya,  sebagaimana  dalam firman Allah sebagai berikut;

Artinya: “Dan Jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?

Jadi, kebebasan menurut Islam sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat Qur’an diatas, dapat bahwa Al-Qur’an mengambil posisi ditengah yaitu dengan konsep “manusia punya pilihan dan kemauan atau kehendak bebas, tapi tidak mutlak sifatnya”. Sebab, bila kebebasan itu sifatnya mutlak, maka akan bertentangan dengan posisi kenisbian manusia berhadapan dengan Tuhan yang serba mutlak dan serba tak terhingga.Dengan demikian dapat dipahami bahwa kebebasan menurut Islam adalah kebebasan berkehendak yang tidak mutlak, sebab kemutlakan itu hanya kepunyaan sang Khalik. Sehingga, jika direlevansikan dengan fitrah manusia, dimana bahwa fitrah utama manusia    adalah   kepercayaan dan keyakinan  kepada Allah,kebebasan yang sesuai dengan fitrah manusia yang ber-Tuhan adalah kebebasan berkehendak yang sifatnya tidak mutlak.

4 Comments

  1. March 1, 2012 at 1:05 pm

    Kebebasan dalam Islam adalah kebebasan yang bertanggungjawab. Seorang boleh tidak beriman kepada Tuhan dalam hal ini Allah, namun dia juga harus menanggung kalo nanti dimasukin neraka. Itu menunjukkan kalo Tuhan, dalam hal ini Allah tidak butuh manusia dan Dia Maha Besar.🙂

  2. dewasastra said,

    March 1, 2012 at 1:11 pm

    Benar… karenanya sebagai umat yg beragama sudah seharsnya kita ‘bijaksana’ dalam menafsirkan ‘kebebasan’ itu sendiri…😀

  3. Eko Wardoyo said,

    March 1, 2012 at 2:37 pm

    blajar memilih kebebasan yang baik yakni yang sesuai dengan tuntunan Al Quran d(^o^”)

  4. March 11, 2012 at 7:15 am

    […] Relevansi fitrah dengan kreatifitas manusia […]


%d bloggers like this: