Eksistensi dan Fungsi Fitrah Bagi Kehidupan Manusia

      Manusia sejak dilahirkan telah membawa fitrah (naluri) keimanan kepada Allah dan kesiapannya untuk menerima Islam. Sejak kelahirannya yang pertama, fitrah keimanan kepada Allah telah pada diri manusia, dan terbentuk atas agama yang lurus,  yang merupakan hal penting menuntut perhatian dari manusia terhadap naluri ini dan penjagaan atasnya. Hal itu sesuai dengan hadits Rasullah berikut;

Artinya: “Tiap anak dilahirkan dalam fitrah, ibu bapaknyalah yang menjadikan dia  Yahudi, Nasrani atau Majusi”. (Al-Hadits)

     Berdasarkan hadits tersebut bahwa asal manusia terlahir di atas fitrah yang bersih, mengimani Allah,  dan mengarahkan  kepada agama yang lurus (Islam). Apabila dikemudian hari didapati adanya penyimpangan dari hal itu, maka hal itu karena pengaruh kedua orang tuanya. Apabila orang tua Yahudi, maka akan berpengaruh terhadap fitrah anak yang terlahir untuk siap menerima Islam berubah menjadi menerima Yahudi.

    Demikian  pula terhadap seluruh arus pemikiran lainnya, yang manusia cenderung kepadanya berupa filsafat meterialisme dan lainnya. Sebenarnya ini terjadi karena pengaruh faktor-faktor asing diluar fitrah manusia. Fitrah manusia tidak akan mati atau musnah oleh pengaruh faktor-faktor ini, tetapi fitrah hanya tertutup oleh hijab-hijab, untuk muncul pada saat  dan tempat yang tepat. Hal ini sesuai dengan firman Allah;

Artinya: “tidak ada perubahan pada fitrah Allah”. (Q.S. Ar-Ruum:30)

            Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa fitrah tersebut  tersembunyi dan terbenam   kedasar  yang  dalam,  namun  ia  muncul pada saat dan tempat yang tepat, yaitu  pada  saat-saat  dimana  jalan menuju  keselamatan  manusia telah tertutup, dan sarana-sarana tidak mampu menyelamatkan manusia. Hal itu digambarkan Allah dalam surat Al-Ankabut ayat  65, sebagai berikut;

Artinya: “Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)”.(Q.S. Al-Ankabut:

Ayat tersebut di atas menggambarkan bahwa eksistensi fitrah pada manusia nampak pada saat-saat lemah dan putus asa atau dalam kesulitan, dimana fitrah membuka serta membakar hijab-hijab atau penghalang yang bertumpu, yang mengalahkan diri manusia, sehingga manusia tidak berlindung melainkan kepada Allah, dan tidak menyeru dengan seruan kecuali seruan Ya, Allah.!  Artinya, bahwa ketika manusia  mengalami kesulitan hidup, maka eksistensi fitrah yang sudah tertanam sejak lahir akan menyadarkan manusia kepada kekuasaan dan pertolongan Allah. Hal itu dapat dijumpai pada sejarah peristiwa Fir’aun ketika akan tenggelam di laut merah saat mengejar Nabi Musa a.s., pada saat itu spontan dia meminta pertolangan dan mengakui Tuhannya Nabi Musa. Oleh karena itu, fitrah pada manusia ini hendaknya dibangkitkan dan diaktifkan  sejak manusia baru lahir, dimana bahwa pada saat itu Islam menganjurkan untuk membacakan azan pada telinga kanan dan membacakan iqamah pada telinga kiri. Sebab, Fitrah  terutama iman dan Islam tidak dapat dibangkitkan melalui argumentasi rasional dan logis mengenai wujud Allah, melalui argument-argumen yang dikenal, seperti keberaturan, atau argumen orang-orang bijak.

    Dengan kata lain, bahwa filsafat dan berbagai jenis argumentasi filosofis tidak dapat membangun fitrah manusia, meskipun berbagai jenis argumentasi terhadap suatu keyakinan dituntut bagi setiap orang menurut kadar yang sesuai dengan tingkatan  dan kemampuan mereka masing-masing. Fitrah manusia bangkit dan menjadi aktif hanya melalui perbuatan yang konsisten dalam berhubungan dengan sumber-sumber hidayah, seperti masjid, para ulama, guru atau sekolah dan sebagainya.

      Berdasarkan penjelasan tersebut di atas, maka dapat dipahami bahwa  eksistensi  fitrah pada manusia dalam kehidupan akan menjadi aktual apabila senantiasa dibangkitkan  dan diaktifkan setiap saat. Namun, apabila fitrah tersebut tidak dibangkitkan atau diaktifkan, maka fitrah tersebut akan terbenam dan tidak bermanfaat bagi manusia, sebagaimana peristiwa yang menimpa Fir’aun. Agama (Islam) sudah menjadi suatu kesatuan pada diri manusia, maka segala tuntutan agama didasarkan kepada “kemampaun kodrat” dari manusia. Di antara berbagai kemampuan pembawaan manusia ini, ada suatu kemampuan kodrat yang menjadi azas dari  segala kemampuan manusia, yaitu fitrah. Dengan firah inilah Islam menyandarkan   syari’atnya,  dan   pada  fitrah  itu  pula  dalam  melaksanakan  ajaran menyandarkan syari’atnya,  dan pada fitrah itu pula dalam melaksanakan ajaran Islam, yang menjadi modal dasar dalam ibadah dan muammalah ialah apa yang dikandung oleh fitrah ini.

      Sebagaimana telah dijelaskan bahwa fitrah berisi keyakinan manusia bahwa ia adalah makhluk Tuhan.  Keyakinan fitrah ini mengadung fungsi dan konsekuensi sebagai berikut;

  1. Jika fitrah dihadapkan kepada  Allah (dalam masalah ibadah), nampak bahwa manusia tidak lebih daripada benda milik-Nya. Dengan demikian, terserah kepada pemilik  apakah  Ia akan  memperhatikan  atau mengabaikannya, memelihara atau merusaknya. Manusia tidak mempunyai hak untuk menuntut suatu apapun, sebaliknya manusia terkena kewajiban. Jadi manusia mengabdi, dan sebagai abdi yang sebenarnya, tidak satupun perintah ataupun larangan, akan dilanggarnya.  Singkatnya bahwa terlepas dari suka atau tidak suka, pahala dan siksa, fitrah mengajak manusia untuk taat kepada Allah.
  2. Jika fitrah ditujukan pada hubungan sesama manusia (muammalah) dalam masyarakat, maka akan menampakkan konsekuensi lain, yaitu keyakinan diri bahwa manusia hanyalah seorang makhluk Tuhan, dan menyadari bahwa ia sama derajatnya dengan makhluk lain. Singkatnya bahwa fitrah akan menimbulkan rasa kasih dan persaudaraan  dalam sanubari manusia, sebagai modal dasar di dalam muammalah.

         Selain fitrah tentang  keimanan dan Islam,  fitrah yang melengkapi penciptaan manusia adalah sebagai makhluk  yang dilahirkan membawa potensi dapat di didik dan dapat mendidik. Dengan memiliki potensi dapat  di didik dan mendidik sehingga manusia mampu menjadi khalifah di bumi, pendukung dan pengembang kebudayaan. Karena manusia dilengkapi dengan fitrah berupa bentuk dan wadah yang dapat diisi dengan berbagai kecakapan dan keterampilan yang dapat berkembang, sesuai dengan kedudukan manusia sebagai makhluk  yang mulia. Pikiran, perasaan dan manusia berbuat merupakan komponen dari fitrah itu.

      Dengan demikian, bahwa potensi yang tidak akan mengalami perubahan sebagaimana dimaksud dalam surat Ar-Ruum ayat 30 mengandung pengertian bahwa manusia terus dapat berpikir, merasa dan bertindak dan dapat terus berkembang. Kecenderungan inilah yang membedakan antara manusia dengan makhluk Allah lainnya dan juga membuat manusia istimewa dan lebih mulia yang sekaligus berarti bahwa manusia adalah makhluk paedagogik (dapat di didik dan mendidik). Fitrah manusia yang diterjemahkan dengan potensi dapat dididik dan mendidik, memiliki kemungkinan berkembang dan meningkat sehingga kemampuannya dapat melampaui jauh dari kemampuan fisiknya yang tidak berkembang.

Daftar Pustaka:

Husain Mazhahiri, Pintar Mendidik Anak, Terjemahan Oleh: Abdilah Assegaf dan Miqdad Turkam, (Jakarta: PT Lentera Basritama, 2002), h. 166

Mudlor Achmad, Etika Dalam Islam, (Surabaya: Al Ikhlas, t.t.), h. 138-139

Saya Rekomendasikan Untuk Anda :

  1. Photography by jalong
  2. Informasi seputar sparepart komputer dan Leptop
  3. Cara Memasang Google Page Rank di WordPress
  4. Cara membuat dan mengganti tulisan “more” di Artikel WordPress
  5. Cara Membuat tulisan berkedip/blink di  sidebar/artikel WordPress
  6.  Cerita tentang penipu dan kalongers
  7. Lelaki zaman dulu dan cowok zaman sekarang
  8. perihal wanita yang harganya terjangkau
  9. Tiba-tiba biru
  10. Saat AtM tertelan
  11. Tradisi mendongeng yang semakin menghilang
  12. Bahan MAkanan yang mengandung RACUN !!
  13. 6 Makanan Yang Dapat memutihkan Gigi
  14. 5 Makanan Sehat Atasi Anemia
  15. Jenuh Ngeblog
  16. Perkenalan tanpa nama
  17. Suck and seed
  18. Mari Mengasah Ilmu  Berbahasa Inggris
  19. Manfaat Dongeng Sebelum Tidur
  20. Dampak Negatif Bagi yang Kecanduan Pornografi
  21. Cinta
  22. Puisi
  23. Aku vs Bohong
  24. Aku vs Jujur
  25. Kamus Istilah dalam Anime-Manga
  26. Dunia Tanpa Perang, Sebuah Impian ?
  27. Cara Mudah Klaim Blog di Technorati
  28. Penjelasan Tentang Domain Dot.tk
  29. Graffiti Creator for Facebook
  30. Eksis dengan Internet
  31. Belajar Ngeblog Berbasis CMS WordPress.org

 

3 Comments

  1. yisha said,

    February 29, 2012 at 3:23 am

    post keren sob…

  2. dewasastra said,

    February 29, 2012 at 3:44 am

    Tengkyu…….😀

  3. yisha said,

    March 2, 2012 at 2:51 am

    makasih juga merekomendasikan aku…. 🙂


%d bloggers like this: