Motivasi Belajar.. What’s That???

Have you ever tried to learn something fairly simple, yet failed to grasp the key ideas? Or tried to teach people and found that some were overwhelmed or confused by something quite basic? If so, you may have experienced a clash of learning styles: Your learning preferences and those of your instructor or audience may not have been aligned. When this occurs, not only is it frustrating for everyone, the communication process breaks down and learning fails. Once you know your own natural learning preference, you can work on expanding the way you learn, so that you can learn in other ways, not just in your preferred style. And, by understanding learning styles, you can learn to create an environment in which everyone can learn from you, not just those who use your preferred style. (http://www.mindtools.com/mnemlsty.html)

Student motivation naturally has to do with students’ desire to participate in the learning process. But it also concerns the reasons or goals that underlie their involvement or noninvolvement in academic activities. Although students may be equally motivated to perform a task, the sources of their motivation may differ. A student who is INTRINSICALLY motivated undertakes an activity “for its own sake, for the enjoyment it provides, the learning it permits, or the feelings of accomplishment it evokes” (Mark Lepper 1988). An EXTRINSICALLY motivated student performs “IN ORDER TO obtain some reward or avoid some punishment external to the activity itself,” such as grades, stickers, or teacher approval (Lepper).  The term MOTIVATION TO LEARN has a slightly different meaning. It is defined by one author as “the meaningfulness, value, and benefits of academic tasks to the learner–regardless of whether or not they are intrinsically interesting” (Hermine Marshall 1987). Another notes that motivation to learn is characterized by long-term, quality involvement in learning and commitment to the process of learning (Carole Ames 1990).  (http://www.kidsource.com/)

Ada yang bisa menerjemahkan artikel diatas,, jujur saya sampe ga’ makan tujuh hari tujuh malam untuk menerjemahkannya.. hhe… yang jelas setahu saya artikel di atas membahas tentang belajar dan motivasi belajar,,, Oke. Sob biar ga’ tambah ribet langsung saja ke TKP…😀

Takkan habis pembahasan dan teori mengenai Belajar dan Pembelajaran. Hingga saat ini,, teori pembelajaran semakin berkembang dan pada kenyataannya Indonesia hanya bisa berteori  (hhe,, koq jadi ngawur ya ?? ) Oke,, pada postingan kali ini saya akan berbagi sedikit teori mengenai MOTIVASI BELAJAR…..

EKSISTENSI MOTIVASI  BELAJAR

Pengertian Motivasi Belajar

Sebelum diuraikan lebih jauh tentang eksistensi motivasi belajar dalam meningkatkan prestasi pendidikan maka terlebih dahulu akan dikemukakan lebih dahulu tentang pengertian motivasi itu sendiri dalam arti umum. Motivasi berasal dari kata motif yang artinya adalah “segala daya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu.[1] Motif inilah yang mendorong untuk segala aktivitas manusia dalam berbuat, manakala seseorang tidak mengerjakan suatu perbuatan bekerja sebagaimana mestinya, berarti ada penyebab yang mungkin mereka tidak sanggup melakukannya, apakah karena sakit, lapar, tidak senang pada pekerjaan, benci kepada guru, tidak pandai belajar, ada kesibukan lain, kesemuanya ini menyebabkan hilangnya motivasi dalam usaha -usaha menyediakan kondisi sehingga seseorang itu tidak mau melakukan sesuatu.

Motivasi yang dimaksud secara umum adalah usaha-usaha untuk menyediakan kondisi-kondisi hingga seseorang ingin melakukan sesuatu, manakala tidak ada minat maka ia akan berusaha untuk melaksanakan.

Anak tidak mungkin melakukan sesuatu kalau pekerjaan itu tidak menarik kecuali ada unsur paksaan dan pengawasan, anak yang ada padanya potensi inteligensi yang lebih baik, bisa saja gagal dalam melaksanakan pekerjaan karena minimnya motivasi baik yang datang dari dalam diri anak itu sendiri (intriks) maupun yang datang dari orang lain atau dari luar (ekstrinsik).

Dari uraian ini ditinjau dari ilmu jiwa, motivasi itu berarti sebagai :

Dasar yang mendorong timbulnya perilaku seseorang, motivasi berkaitan dengan kebutuhan, karena kebutuhan dasar manusialah yang mendorong timbulnya motivasi, karena itu motivasi dibedakan atas dua hal yaitu motivasi yang timbul dari dalam diri sendiri (individu), karena motivasi itu timbul karena dorongan dari luar (ekstrinsik).[2]

 Motivasi timbul dari diri atau intrinsik disebabkan karena kebutuhan itu bermacam-macam, seorang anak atau individu akan terdorong melakukan sesuatu manakala merasa kebutuhannya, karena memang kebutuhan inilah menimbulkan situasi yang tidak seimbang atau tidak stabil seperti ketegangan yang meminta kepuasan agar mendapat keseimbangan hidup, yang dapat merasakan kepuasan, jika kebutuhan itu terpenuhi.

Bila kebutuhan telah terpenuhi, aktivitas berkurang, kemudian berganti dan akan menimbulkan kebutuhan yang baru, sebagai contoh kebutuhan akan pendidikan.

Pertama anak itu belajar karena ingin lulus dan naik kelas, setelah lulus timbul lagi keinginan baru yaitu ingin memperoleh ijazah, setelah berijazah mereka ingin lanjut ke jenjang yang lebih tinggi yaitu pendidikan berikutnya, atau ingin memperoleh pekerjaan dan seterusnya sepanjang kehidupan.

Begitulah gambaran kebutuhan manusia, berubah selama hidup dan perubahan itulah yang menimbulkan motivasi, sehingga motivasi itu sebagai suatu kegiatan yang dinamis.

Menurut Morgan membagi 4 motivasi kebutuhan yaitu sebagai berikut :

  1. Kebutuhan itu berbuat sesuatu dari kegiatan itu sendiri.
  2. Kebutuhan itu menyenangkan hati orang lain.
  3. Kebutuhan untuk mencapai hasil.
  4. Kebutuhan untuk mengatasi kesulitan.[3]

 Kalau ditinjau dari segi unsur, maka motivasi itu dapat dibagi menjadi tiga yaitu :

  1. Motif mendorong terus untuk memberikan energi pada suatu tingkah laku (merupakan dasar energi).
  2. Motif menyeleksi tingkah laku menentukan arah apa yang akan dan tidak akan dilakukan.
  3. Motif mengatur tingkah laku artinya bila sudah memilih salah satu arah perbuatan maka arah itu tetap akan dipertahankan.[4]

 Motif tersebut di atas adalah memberikan gambaran bahwa manusia memiliki keinginan-keinginan yang sangat mendasar dan urgen untuk dilakukan.

Selanjutnya pada uraian ini sangat perlu dikemukakan teori dan motivasi dalam seluruh kegiatan utamanya kegiatan belajar mengajar dan kegiatan pendidikan, teori yang dimaksud pada motivasi mempunyai tingkatan dari bawah sampai ke atas yaitu :

  1. Kebutuhan psikologis seperti lapar, haus, kebutuhan akan istirahat dan sebagainya.
  2. Kebutuhan akan keamanan (security) yakni rasa terlindung dari rasa takut dan kecaman.
  3. Kebutuhan akan cinta kasih rasa diterima dan dihargai dalam suatu kelompok (sekolah, keluarga, dan teman sebaya).
  4. Kebutuhan akan mewujudkan diri sendiri, yakni mengembangkan bakat dengan usaha mencapai hasil dalam bidang pengetahuan sosial, bentuk pribadi.[5]

 Setelah dimengerti arti dari pada motivasi dalam pengertian secara umum, maka yang dimaksud motivasi belajar ialah  motif mendorong anak (peserta didik) untuk belajar baik yang datangnya dari dalam diri mereka maupun motivasi yang datang dari luar dapat merangsang dan meningkatkan anak didik untuk belajar. Sehingga dengan demikian anak akan berhasil dengan sehubungan dengan masalah ini. S. Nasution mengemukakan bahwa anak mempunyai inteligensi tinggi mungkin gagal dalam pelajaran karena kurangnya motivasi.

Hasil yang baik tercapai karena motivasi yang kuat anak yang gagal tak dapat begitu saja dapat dipersilahkan. Mungkin guru yang tak begitu berhasil memberikan motivasi yang membangkitkan kegiatan pada anak.[6]

 Dalam kaitannya dengan pendidikan, motivasi belajar adalah yang mendorong para pendidik untuk mencapai tujuan pendidikan. Hal ini berhubungan dengan motivasi kebutuhan untuk menyenangkan hati orang lain sebagaimana arti pendidikan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa :

Mendidik adalah menuntun segala kekuatan kodrati yang ada pada anak-anak agar mereka menjadi manusia dan menjadi anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.[7]

 Dari pendapat inilah yang menjadi motivasi dalam pendidikan, yang selalu mengarah pada tujuan yang ingin dicapai pada setiap rumusan tujuan pendidikan.

Motivasi belajar dalam melaksanakan kegiatan pendidikan di dorong oleh kebutuhan pendidikan, agar anak lebih sanggup mengatasi kesulitan-kesulitan  hidup, memperoleh pengetahuan sikap baik penguasaan kecakapan dan lain-lain.

Motivasi belajar mengarah pada tujuan, maka juga motivasi belajar akan mengarah pada tujuan belajar pula oleh karena itu penulis kemukakan pendapat Hasibuan tentang kemampuan hasil belajar sebagai berikut :

  1. Keterampilan intelektual (yang merupakan hasil belajar terpenting dari sistem lingkungan skolatik).
  2. Strategi kognitif mengatur “cara belajar” dan berfikir seseorang yang dalam arti seluas-luasnya, termasuk kemampuan memecahkan masalah.
  3. Informasi verbal, pengetahuan dalam arti informasi dan fakta kemampuan ini umumnya di kenal dan tidak jarang.
  4. Keterampilan motorik yang diperoleh di sekolah antara lain keterampilan menulis, mengetik dan menggunakan jangka, dan sebagainya.
  5. Sikap dan nilai yang berhubungan dengan arah serta intensitas emosional yang dimiliki seseorang, bagaimana dapat disimpulkan dari kecenderungan bertingkah laku kepada orang, barang atau kejadian.[8]

 Dengan demikian motivasi belajar dalam meningkatkan prestasi pendidikan tidak lepas dari dorongan, baik motif itu berasal dari dalam maupun dari luar. Motif dari dalam (intrinsic) yaitu :

a)      Ia belajar karena dorongan dan keinginan untuk mengetahuinya.

b)      Ia belajar supaya mendapat angka yang baik, naik kelas dan mendapat ijazah.[9]

 


[1] Nasution, Didaktik dan Asas-Asas Mengajar, (Edisi IV; Bandung : Jemars, 1982), h. 76.

[2] F.J. Monks et.al, op. cit., h. 161.

[3] S. Nasution, op. cit., hal. 77-78.

[4] Monks at.el, op. cit., hal. 162.

[5] S. Nasution, op. cit., hal. 78.

[6] Zahara Idris, Dasar-Dasar Kependidikan, (Cet. IV; Padang : Angkasa Raya, 1981), hal. 9.

[7] Zahara Idris, Dasar-Dasar  Kependidikan (Cet. IV; Padang: Angkasa Raya, 1981), hal. 9.

[8] Hasibun Dip, at.el, proses Belajar Mengajar (Cet. II Bandung: Remaja Rosda Karya, 1986) hal. 525.

[9] Hasibun Dip, at.el, Proses Belajar Mengajar (Cet. II Bandung: Remaja Rosda Karya, 1986) hal.525.

1 Comment

  1. March 7, 2012 at 3:44 am

    […] Ditinjau dari kepentingan belajar, yang paling pokok dari teori informasi adalah pemrosesan informasi dari memori jangka pendek menjadi memori jangka panjang, karena di sinilah sebenarnya sistem pengetahuan terbentuk. Pada saat ini seseorang melakukan proses elaborasi, yaitu kegiatan membandingkan, menganalisis, dan mentranformasikan (Abizar, 1983, hal. 15). Proses yang berlangsung di sini akan sangat menentukan sekali terhadap sifat informasi yang diterima: dalam arti, apakah informasi itu akan bertahan lama dalam ingatan atau tidak. Menurut Dimyati Mahmud (1989, hal. 138) cara seseorang melakukan proses elaborasi ikut menentukan terhadap diingatnya kembali informasi pada waktu lain. Oleh sebab itu perlu dicari suatu pendekatan serta metode belajar mengajar yang tepat agar pemrosesan informasi dapat berlangsung secara maksimal. Artikel Terkait Lainnya : Motivasi Belajar […]


%d bloggers like this: