Kebudayaan dan Adat

Konsepsi Kebudayaan dan Adat

            Havighurst dan Neugarten mengemukakan pengertian tentang kebudayaan yang meliputi etika, bahasa, makanan , kepercayaan, terhadap agama, pengetahuan, sikap dan nilai-niali yang merupakan hasil karya manusia seperti halnya bermacam-macam benda termasuk didalamnya alat-alat teknologi, dikatakan pula bahwa kebudayaan merupakan contoh atau pola dari way of life suatu masyarakat.1

            Karena kebudayaan merupakan aspek moral, kebiasaan, kepercayaan tentunya memiliki niali-nilai pendidikan. Khusunya nilai-nilai pendidikan agama Islam. Hal ini dapat dipahami bahwa agama sebagai sumber kebudayaan yang maksudnya adalah bahwa pola-pola tingkah laku manusia termasuk cara berpakaian, cara bergaul dan sebagainya yang dilakukan oleh umat beragama yang menjadikan masyarakat itu mempunyai ciri tertentu. 2

            Oleh karena itu kondisi sosial budaya yang tertuang dalam satu kebudayaan denagn ciri-ciri khusus menjadi sebuah realitas hidup dan demi eksistensi kemanusiaan. Realitas ini seyogyanya dinilai dan dipahami dalam kerangka relasi dengan kehidupan masyarakat tersebut.

Alam yang tampak tidak berubah, ternyata mendapatkan sosol dan wajah baru oleh usaha belajarnya manusia. Ditengan proses belajarnya manusia itu alam menjadi objek yang diubah dan diberi arti serta bentuk baru oleh tangan manusia menjadi produk budaya, karena itu kebudayaan merupakan sesuatu yang dipelajari oleh anak manusia.

            G.A. Van Peursen (1997:127) menyebutkan bahwa seluruh kebudayaan manusia itu dapat diartikan sebagai proses belajar.3

            Semua ilmu pengetahuan dan teknologi modern itu bertumpuh pada pengalaman-pengalaman generasi terdahulu. Maka transmisi kultural melalui kegiatan belajar sebagian besar terjadi dan berlangsung transfer dari pewarisan sosio-budaya diluar hereditas biologis untuk memberikan bentuk-bentuk baru pada sumber kekayaan alam.

            Proses sebagaimana yang diungkapkan di atas  dapat disebut sebagai kebudayaan dan pada intinya merupakan proses belajarnya manusia dan proses tranpormasi berkesinambungan terhadap alam. Semua ini terjadi berkat rasio manusia selaku “animal simbolicum”. Yang memakai simbol-simbol abstraksi untuk mengubah isi alam dan memperkaya dunia.4

Oleh sebab itu budaya memberikan pengaruh-pengaruh tertentu pada manusia itu sendiri. Adapun pengaruh-pengaruh yang dapat diberikan oleh kebudayaan itu sendiri antara lain adalah :

  1. Pengaruh regulatif
  2. Kesinambungan hayati
  3. Pengerahan pada kehidupan jiwa anak dan orang dewasa.

Dengan demikian keterlibatan manusia dengan satu pola budaya yang dianggap teratur, tertib dan kokoh memberikan rasa aman pada dirinya dan akhirnya merupakan bentuk sosialisasi kemanusiaan lewat proses belajar dan pendidikan dengan mengandung nilai-nilai bahwa manusia senantiasa menyadari misi hidupnya dan terus menerus belajar dengan mewarisi budaya-budaya lama sekaligus membuat budaya baru.

Kepustakaan;


1 Havighurst dan Neugarten, Society and educatian (USA, Allyn And Bacond, 1964) h. 9

2 Abdul Manan, op.cit h. 159

3 Kartini Kartono  op.cit h. 290

4 Ibid

%d bloggers like this: