Perempuan Di Titik Nol (bag. 2)

Paman saya tidak muda lagi. Ia jauh lebih tua dari saya. Ia sering bepergian ke Kairo seorang diri, belajar di EI Azhar, dan kuliah di saat saya masih seorang bocah kecil yang belum pandai membaca atau menulis. Paman akan menyuruh saya memegang sebuah kapur tulis dan menyuruh saya menulis di atas sebuah batutulis: AM, Ga, lim, Dal. Kadang-kadang ia menyuruh saya mengulang untuk menirukannya: “Alif tak punya tanda apa-apa di atasnya. Ga diberi titik di bawahnya, Jim diberi titik di tengahnya. Dal sama sekali tak punya apa-apa. Ia akan menganggukkan kepalanya ketika membaca sajak dari seribu sajak karya Ibn Malik, seakan-akan ia sedang membaca AI-Qur’an, dan saya akan mengulang menyebutkan setiap huruf menirukannya, dan menganggukkan kepala saya juga. Waktu musim liburan telah usai, Paman akan menunggang keledai, dan berangkatlah ia menuju Stasiun Kereta Api Delta. Saya mengikutinya di belakang sambil membawa keranjang yang besar, penuh dengan telur, keju dan bermacam-macam roti, ditutup oleh buku-buku dan pakaiannya. Sepanjang perjalanan, sampai tiba di stasiun kereta api, Paman tidak henti-hentinya menceritakan kepada saya tentang bilik tempat tinggalnya di ujung jalan Muhammad Ali di dekat Benteng, tentang EI Azhar, lapangan Ataba, trem; orang-orang yang tinggal di Kairo. Pada saat-saat tertentu ia akan menyanyi dengan suara yang merdu, badannya berlenggak-lenggok mengikuti irama gerakan keledai yang ditungganginya.

“Kubuang dikau bukan di laut lepas

Tapi di tanah kering yang kau tinggalkan padaku.

Kutukar dikau bukan dengan emas gemerlapan

Tapi dengan jerarni tak berharga kau jual padaku.

Ah, malarn-malamku yang panjang

Ah mataku, Ah. “

Ketika Paman naik ke atas kereta api, dan mengucapkan selamat tinggal, saya menangis dan merengek supaya dia membawa saya bersamanya ke Kairo. Tetapi Paman bertanya, Apakah yang akan kau perbuat di Kairo, Firdaus?”  Lalu saya menjawab: “Saya ingin ke EI Azhar dan belajar seperti Paman.”

Kemudian ia tertawa dan menjelaskan bahwa EI Azhar hanya untuk kaum pria saja. Lalu saya menangis, dan memegang tangannya, sementara kereta api mulai bergerak maju. Tetapi ia menarik tangannya dengan sekuat tenaga dan secara tiba-tiba sehingga saya jatuh tertelungkup. Maka saya kembali pulang dengan kepala tertunduk,  merenungi bentuk jari kaki saya, sambil di jalan desa,merenungi diri-sendiri, sementara bermacam-macam pertanyaan berkecamuk di dalam benak saya. Siapakah saya? Siapakah ayah saya? Apakah saya akan menghabiskan hidup saya dengan mengumpulkan kotoran ternak, menjunjung pupuk di atas kepala, membuat adonan tepung, dan memanggang roti? Kembali di rllmah Ayah, saya memandang dengan hampa pada tembok-tembok dari tanah liat, bagaikan orang asing yang belum pernah masuk ke tempat ini. Saya melihat sekeliling hampir-hampir keheranan, seakan-akan saya tidak lahir di situ, tetapi tiba-tiba terjatuh dari langit, atau muncul entah dari mana dari dalam perut bumi, menemukan diri saya di suatu tempat di mana saya tidak termasuk di rumah yang bukan milik saya, lahir dari seorang ayah yang bukan ayah saya, dan dari seorang ibu yang bukan ibu saya.

Apakah itu karena cerita Paman tentang kota Kairo, tentang rakyat penghuni kota itu yang telah mengubah saya? Apakah saya benar-benar anak perempuan ibu saya, apakah ibu saya seorang yang lain pula? Apakah saya dilahirkan sebagai anak ibu saya dan berubah menjadi seorang yang lain? Ataukah ibu saya telah mengubah dirinya menjadi seorang perempuan lain yang sangat mirip dengannya, sehingga saya tidak dapat melihat perbedaannya? Saya berusaha untuk mengingat kembali bagaimana rupa ibu saya ketika pertama kali saya melihatnya. Saya dapat mengingat dua mata. Khususnya saya dapat mengingat matanya. Saya tidak dapat melukiskan warna, atau bentuk matanya. Itu adalah mata yang saya pandang. Itu adalah mata yang sedang mengamati saya. Sekalipun saya menghilang dari pandangannya, mata itu dapat melihat saya, dan membuntuti saya ke manapun saya pergi, sehingga bila saya tertatih-tatih ketika belajar jalan, mata itu akan menahan saya. Setiap kali saya berusaha untuk jalan, saya terjatuh. Suatu kekuatan seakan-akan mendorong saya dari belakang sehingga jatuh ke depan, atau suatu beban dari depan seakan-akan bersandar pada tubuh saya sehingga saya jatuh ke belakang. Sesuatu seperti tekanan udara yang ingin meremukkan saya; sesuatu seperti daya tarik bumi yang berusaha untuk menelan saya masuk ke dalamnya. Dan di tengah-tengahnya, di situlah saya berada, berjuang menegangkan lengan dan kaki saya dalam usaha untuk berdiri tegak. Tetapi saya tetap jatuh, terpukul oleh kekuatan yang saling bertentangan, yang tetap mendorong saya ke jurusan yang berbeda-beda, bagaikan sebuah benda yang tenggelam di lautan tanpa batas, tanpa pantai dan tanpa dasar, dihempas air bila ia mulai tenggelam, dan diterjang angin bila mulai mengambang. Senantiasa tenggelam dan timbul, tenggelam dan timbut antara laut dan langit, tanpa sesuatu untuk pegangan kecuali kedua mata itu. Dua mata itu yang saya pegang erat-erat dengan sekuat tenaga saya. Dua mata itu saja yang seakan-akan dapat menahan saya.

Sampai detik ini saya tak tahu apakah kedua mata itu terbuka lebar atau sipit, juga tak dapat saya ingat apakah mata itu dikelilingi bulu mata atau tidak. Yang saya ingat hanyalah

dua buah cincin yang teramat putih di sekitar dua lingkaran yang hitam pekat. Saya hanya cukup melihat ke dalamnya, maka yang putih menjadi lebih putih dan yang hitam semakin hitam, seolah-olah cahaya matahari menembus ke dalamnya dari arah sesuatu sumber kekuatan gaib bukan yang ada di dunia, bukan pula yang di langit, karena tanah berwarna hitam kelam, dan langit menjadi gelap bagaikan malam, tanpa matahari dan tanpa bulan. Saya tahu dia ibu saya, tetapi entah bagaimana. Demikianlah, maka saya merangkak perlahan-Iahan ke arahnya untuk meneari kehangatan dari tubuhnya. Gubuk kami dingin hawanya, tetapi di musim dingin justru Ayah menggeser tikar jerami saya beserta bantalnya ke bilik kecil yang menghadap ke utara, dan menempati sudut tempat saya di dalam ruangan tungku. Dan bukannya tetap tinggal di sisi saya untuk membuat saya hangat, Ibu biasanya membiarkan saya sendirian dan pergi ke Ayah untuk membuat dia hangat. Di musim panas saya dapat melihat Ibu duduk dekat kaki Ayah dengan sebuah mangkuk timah di tangannya ketika ia membasuh kakinya dengan air dingin.

Ketika saya bertambah besar sedikit, Ayah meletakkan mangkuk itu di tangan saya dan mengajari bagaimana cara membasuh kakinya dengan air. Sekarang saya telah menggantikan Ibu dan melakukan pekerjaan yang biasa dilakukannya. Ibu tidak ada lagi, malahan ada seorang perempuan lain yang memukul tangan saya dan mengambil-alih mangkuk itu. Ayah berkata, bahwa dia adalah ibu saya. Sebenarnya, dia tampak mirip sekali dengan Ibu; gaun panjangnya, muka yang sama, dan gerakan yang sama pula. Tetapi, bila saya melihat ke dalam matanya saya dapat merasakan bahwa dia bukanlah Ibu saya. Itu bukan mata yang menahan saya setiap saat akan jatuh. Itu bukan dua cincin yang berwarna putih bersih mengelilingi dua lingkaran yang hitam pekat, yang warna putihnya semakin putih, dan yang hitam semakin hitam, setiap saat saya menatapnya seakan-akan cahaya matahari atau bulan tetap menyinarinya. Tak sedikit pun cahaya pernah menyentuh mata perempuan ini, sekalipun bila hari cerah berseri-seri dan matahari bersinar sangat terang. Pada suatu hari saya memegang kepalanya di antara kedua tangan saya dan membalikkannya sedemikian rupa sehingga sinar matahari langsung menyinari mukanya, tetapi matanya tetap pudar, tak mempan akan cahayanya, bagaikan dua lampu yang telah padam. Saya tidak tidur sepanjang malam menangis sendirian, berusaha meredam suara isak saya sedemikian rupa supaya jangan mengganggu adik-adik laki-Iaki dan perempuan yang sedang tidur di lantai di sebelah saya. Karena, seperti kebanyakan orang, saya punya banyak saudara laki-laki dan perempuan. Mereka itu seperti ayam yang berkembang-biak di musim dingin, menggigil di musim dingin dan kehilangan bulu mereka, dan kemudian di musim panas terkena penyakit mencret, makin merana dengan cepatnya dan satu demi satu merangkak ke sebuah sudut bilik dan mati.

bersambung ke bag. 3

Nawal el-Saadawi, Women at Point Zero, Translation

Copyright © Zed Books Ltd. 1983, London,

Diterjemahkan oleh Amir Sutaarga

%d bloggers like this: