Filsafat Dalam Sya’ir (1)

Mazhab Milesian

“Untuk menjadi sesuatu yang darinya segala sesuatu lainnya meningkatkan diri, substansi-substansi itu harus musnah sekali lagi, sebagaimana sudah ditakdirkan, sehingga bisa menyempurnakan dan memuaskan satu sama lain berdasarkan ketidakadilannya, sesuai dengan pengaturan waktu”

Etika: ‘Burnet’

“Kita adalah  orang asing di dunia ini, dan tubuh adalah kuburan bagi jiwa, akan tetapi tak seyogyanya kita mencoba membebaskan diri dengan jalan bunuh diri; sebab kita adalah milik Tuhan yang merupakan gembala kita, dan tanpa perintahnya kita tak berhak untuk bebas. Dalam hidup ini ada tiga jenis manusia, sebagaimana ada tiga khalayak yang mengunjungi pertandingan Olympiade. Kelas terendah terdiri dari mereka yang datang untuk membeli dan menjual, kelas diatasnya adalah mereka yang bertanding. Namun yang terbaik diantara semuanya adalah mereka yang datang hanya untuk menonton. penyucian tertinggi diantara semuanya dengan demikian adalah ilmu pengetahuan yang bebas dari pamrih, dan manusia yang mengabdikan diri pada bidang itulah, yakni seorang filsuf sejati, yang paling berhasil membebaskan dirinya dari ‘jentera kelahiran'”.

Heraklitus

“Sabda Gusti lewat orakel Delphi yang tak pernah mengucapkan maupun menyembunyikan maksudnya, namun mengucapkannya lewat pertanda. Dan Sabyl, lewat bibirnya yang mempesona, menuturkan sesuatu yang tak mengundang sukacita, tanpa hiasan, tanpa aroma, yang bisa mencapai seribu tahun suaranya, puji bagi dewa atas nama dia. Di Hades  terciumlah aroma nyawa. Kematian yang agung mendapat ganjaran yang agung. (Mereka yang mati dan menjadi Dewa). Para pejalan malam, tukang tenung, pendeta Bacchus dan dukun wanita pecandu anggur, peramal misteri. Takhayul yang dianut orang-orang adalah takhayul tak suci. Dan mereka menyembah angan-angan ini, seolah berbicara dengan seseorang didalam rumahnya, tak tahu seperti apa gerangan para pahlawan dan dewa-dewa. Sekiranya bukan untuk Dionysus mereka adakan upacara dan nyanyikan himne memalukan yang memuja lingga, akan lebih memalukan lagi perbuatan mereka. Namun Hades tak beda dengan Dionysus, yang untuk menghormatinya mereka bertingkah gila minum anggur berpesta pora. Sia-sia mereka bersuci dengan mencemarkan diri dalam darah, seperti orang terkena lumpur mencuci kakinya dalam lumpur. Siapapun yang melihat dia melakukannya, tentu menganggap dia gila.

“Dunia ini, yang sama bagi semuanya, bukan diciptakan oleh dewa atau manusia; tetapi dahulu, sekarng dan seterusnya adalah Api yang terus menyala, yang kadang berkobar dan kadang meredup.” “Pertama-tama api berubah menjadi laut; dan separuh dari laut adalah tanah, separuhnya lagi angin puting beliung.”

“Pasangan-pasangan terdiri dari apa yang utuh dan yang tak utuh yang menyatu dan yang tercerai, dan segala sesuatu lahir dari yang satu.”

“Yang baik dan yang  buruk adalah satu”.

“Bagi dewa segala sesuatu adil, baik, dan benar, namun manusia beranggapan bahwa sebagian hal salah dan sebagian lainnyanbenar.”

“Yang menanjak dan yang menurun adlah satu dan sama.”

“Dewa adalah siang dan malam, musim dingin dan musim panas, perang dan perdamaian, kenyang dan kelaparan; namun ia menjelma dalam pelbagai bumbu, pun dinamai sesuai dengan cita rasanya masing-masing.”

Segala sesuatu bertukar dangn Api, dan Api bertukar dengan segala sesuatu, seperti barang-barang yang ditukarkan dengan emas dan emas ditukar dengan barang-barang.” “Api hidup dari kematian udara, dan udara hidup dari kematian api; air hidup dari kematian tanah, tanah hidup dari kematian air.” “Matahari tak dapat melampaui ukurannya; jika ia melampauinya, maka para Eriny, yakni para pembantu keadilan, akan mencegahnya.” Kita harus tahu bahwa perang berlaku bagi semuanya, dan perselisihan adalah keadilan.”

“Engkau tak dapat mencebur dua kali dalam sungai yang sama, karena air segar senantiasa mengalir melintasimu.” “dan Matahari selalu baru setiap hari.”

“Waktu mengubah masa muda gemerlapan, Meraut lajur-lajur pada dahi keindahan, Hidup dalam tipisnya kebenaran alam, Tak satu bertahan dari pedangnya menikam.”

“Berharap atas waktu akan kekal sajakku, Muliakan keagungan, meski kejam nian cakarmu”

“Kusaksikan Yang Kekal dimalam lainnya, Seperti cincin sinar agung nan murni dan baka, Semua tenang, dan ia pun bercahaya; Dan melingkar dibawahnya, sang Waktu dalam jam, hari, warsa, Bola-bola memutarnya, Bagai bayang raksasa yang berjalan; sedang semesta alam Dan segala isinya bergerak di dalam”

sumber:  Bertrand Russel “Sejarah Filsafat Barat”

%d bloggers like this: