Perempuan Di Titik Nol (Bag.1)

Ini adalah kisah seorang wanita sejati. Saya telah berjumpa dengannya di Penjara Qanatir beberapa tahun yang lalu. Saya sedang melakukan penelitian mengenai kepribadian suatu kelompok wanita yang dipenjarakan dan ditahan, karena dijatuhi hukuman atau dituduh melakukan berbagai pelanggaran. Dokter penjara, seorang laki-Iaki, menceriterakan kepada saya bahwa wanita ini telah dijatuhi hukuman mati karena telah membunuh seorang laki-laki. Tetapi ia tidak seperti wanita-wanita pembunuh lainnya yang ada di dalam penjara tersebut.

“Anda tidak akan pernah menjumpai orang seperti dia di dalam maupun di luar penjara ini. la menolak semua pengunjung, dan tidak mau berbicara dengan siapa pun juga. Biasanya ia tidak menyentuh makanan sama sekali, dan tetap tidak tidur sampai pagi hari. Kadang-kadang penjaga penjara mengamati apabila dia sedang duduk sambil memandang dengan kosong ke depan berjam-jam lamanya. Suatu hari ia minta sebuah pena dan kertas, kemudian ia habiskan waktu berjam-jam lamanya dengan membungkuk di atas pena dan kertas itu tanpa bergerak. Si penjaga tidak dapat mengatakan apakah ia menulis sebuah surat atau berbuat yang lainnya.

Barangkali ia sama sekali tidak menulis apa-apa.” Saya bertanya kepada dokter penjara, “Apakah ia mau bertemu dengan saya?”.

“Saya akan mencoba membujuknya untuk berbicara dengan Anda barang sesaat,” katanya. “Mungkin ia setuju jika saya jelaskan bahwa Anda adalah seorang psikiater, dan bukan salah seorang pembantu Jaksa Penuntut Umum. Ia menolak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Malahan ia pun menolak untuk menandatangani permohonan kepada Presiden supaya dengan begitu hukumannya dapat diubah menjadi hukuman kurungan badan seumur hidup.

“Siapakah yang membuat surat permohonan itu untuknya?” tanya saya.

“Sayalah yang membuatnya,” katanya. “Terus terang sesungguhnya saya merasa bahwa dia bukan pembunuh. Bila Anda memandang muka, matanya, Anda tak pernah akan percaya, bahwa seorang wanita yang begitu lemah-Iembut dapat membunuh.”

“Siapa bilang bahwa suatu pembunuhan tidak menghendaki seseorang yang lemah-lembut?”

Ia memandang kepada saya dengan sikap heran sekejap lamanya, dan kemudian tertawa gelisah.

“Pernahkah Anda membunuh seseorang?”

“Apakah saya seorang wanita lemah-Iembut?” jawab saya.

Ia memalingkan kepalanya ke satu sisi, menunjuk pada sebuah jendela yang amat kecil, dan berkata, “itulah selnya.”

“Saya akan pergi ke sana dan berusaha membujuknya supaya datang dan menemui Anda.” Tak lama kemudian ia kembali tanpa dia. Firdaus telah menolak untuk menemui saya. Saya sebenarnya bermaksud untuk memeriksa beberapa wanita lainnya yang dipenjarakan hari itu, tetapi sebaliknya, saya masuk ke dalam mobil dan pergi.

Di rumah saya tak dapat berbuat sesuatu. Saya harus memeriksa kembali rancangan naskah buku saya yang terakhir, tetapi saya tak sanggup memusatkan pikiran. Tak lain yang saya pikirkan hanyalah wanita yang bernama Firdaus itu, dan yang sepuluh hari lagi akan dibawa ke tiang gantungan.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali saya telah berada lagi di pintu gerbang penjara. Saya minta izin kepada seorang sipir wanita untuk melihat Firdaus, tetapi dia berkata: “Tiada gunanya, Dokter. Ia tidak akan mau menemui Anda.”

“Mengapa?”

“Mereka akan menggantungnya beberapa hari lagi. Apa gunanya Anda, atau orang lain bagi dia? Biarkan saja dia!” Ada nada marah dalam suaranya. Ia melihat pada saya dengan pandangan marah, seakan-akan sayalah yang akan menggantung Firdaus beberapa hari lagi.

“Saya sama sekali tidak berurusan dengan para penguasa, baik di tempat ini maupun di tempat yang lain,” kata saya.

“Itulah yang selalu mereka katakan semua,” katanya dengan sikap marah.

“Apa sebabnya kau naik pitam?” tanya saya. “Kau pikir  Firdaus itu tidak bersalah, bahwa dia tidak membunuh orang itu?”

Dia menjawab dengan sikap yang lebih galak, “Pembunuh atau bukan, dia adalah seorang wanita yang tidak bersalah dan dia tak perlu dihukum gantung. Mereka itulah orang-orangnya yang harus digantung.”

“Mereka? Siapakah mereka itu?” Ia melihat kepada saya dengan sikap curiga dan berkata,

“Lebih baik Anda katakan kepada saya, siapa sebenarnya Anda ini? Apakah mereka itu yang mengirim Anda kemari?”

“Siapa yang Anda maksud dengan ‘mereka’?” tanya saya lagi. Ia melihat keliling dengan hati-hati, hampir ketakutan, dan melangkah, mundur menjauhi saya.

”’Mereka’ … Maksud Anda mengatakan bahwa Anda tidak kenal mereka itu?”

“Tidak,” kata saya. Ia mengeluarkan bunyi tertawa yang pendek dan penuh ejekan sambil berlalu. Saya mendengar ia bergumam kepada dirinya sendiri: “Bagaimana mungkin bahwa ia sendiri saja yang tidak mengenal mereka?”

Saya kembali ke penjara beberapa kali, tetapi semua daya upaya saya untuk menemui Firdaus tidak berhasil. Saya merasa bagaimanapun juga bahwa penelitian saya dalam keadaan gawat. Terus terang, seluruh kehidupan saya kelihatannya diancam kegagalan. Kepercayaan pada diri sendiri mulai goncang dan saya mengalami saat-saat yang penuh kesulitan. Menurut pandangan saya seakan-akan wanita ini yang telah membunuh seorang mahkluk manusia, dan sebentar lagi akan dibunuh juga, merupakan pribadi yang jauh lebih baik dari saya sendiri. Dibandingkan dengan dia, saya hanyalah seekor serangga kecil yang sedang merangkak di tanah di antara jutaan serangga lainnya.

Tiap kali saya teringat akan ekspresi di mata sipir atau dokter penjara, ketika mereka berbicara tentang ketidak- acuhannya yang menyeluruh terhadap segala hal dan sikap menolak segala-galanya ditambah sikap penolakan untuk menemui saya, perasaan yang mencekam bahwa saya tak berdaya, dan tak berarti apa pun terus bertambah. Sebuah pertanyaan tetap berputar-putar di dalam benak saya:

“Wanita macam apa dia? Sejak dia menolak saya, apakah hal itu berarti bahwa dia adalah pribadi yang lebih baik dari saya? lagi pula, dia pun menolak untuk mengirim permohonan kepada Presiden supaya melindunginya dari tiang gantungan. Apakah itu merupakan tanda bahwa dia lebih baik dari Kepala Negara?” Saya tercekam oleh suatu perasaan yang boleh dikatakan pasti, tetapi sulit dijelaskan, bahwa ia sebenarnya lebih baik daripada semua orang laki-laki maupun wanita yang telah biasa kita dengar, lihat, atau ketahui.

Saya berusaha untuk mengatasi kesulitan untuk bisa tidur, tetapi sebuah pikiran lain memenuhi otak saya sehingga saya tetap jaga. Ketika dia menolak menemui saya, apakah dia tahu siapa saya, atau apakah dia menolak saya tanpa mengenal diri saya?. Keesokan paginya, saya telah berada di penjara lagi. Saya tidak bermaksud berusaha menemui Firdaus, sebab saya telah kehilangan harapan. Saya sedang menunggu sipir atau dokter penjara. Dokter belum juga tiba namun saya menjumpai sipir.

“Apakah Firdaus berkata kepada Anda bahwa dia mengenal saya?” tanya saya.

“Tidak, ia tidak mengatakan apa-apa,” jawab sipir. “Tetapi dia mengenal Anda.

“Bagaimana Anda tahu, bahwa dia mengenal saya?”

“Saya dapat menerka perasaannya.” Saya berdiri terpaku seperti berubah menjadi batu. Sipir meninggalkan saya untuk pergi melakukan tugasnya. Saya berusaha untuk bergerak, untuk pergi ke mobil saya dan berangkat, tetapi gagal. Suatu perasaan aneh yang memberat menekan hati dan tubuh saya, menghilangkan tenaga di kaki saya. Sebuah perasaan yang lebih berat dari beratnya seluruh bumi ini, seolah-olah saya bukan berdiri, malah berbaring entah di mana di bawahnya. Juga langit telah mengalami perubahan; warnanya telah berubah menjadi hitam, seperti warna bumi, dan menekan saya ke bawah dengan berat yang bertambah.

Perasaan ini pernah saya ketahui sebelum peristiwa ini, beberapa tahun yang telah lampau. Saat itu saya jatuh cinta kepada seorang pria yang tidak membalas cinta saya. Saya merasa ditolak, bukan saja oleh dia, bukan saja oleh satu orang di antara sekian juta yang menghuni dunia yang padat ini, tetapi oleh setiap makhluk atau benda yang ada di bumi ini, oleh dunia yang luas itu sendiri. Saya luruskan bahu saya, berdiri setegak mungkin dan menarik napas dalam-dalam. Beban di kepala saya berkurang. Saya mulai memandang sekeliling saya dan merasa heran ketika menyadari bahwa saya berada di penjara pada waktu sepagi ini. Sipir membungkuk, menyikat lantai lorang gedung yang berubin. Saya diliputi perasaan jijik luar biasa terhadapnya. Dia tidak lebih dari seorang wanita yang sedang membersihkan lantai gedung penjara. Dia tidak bisa membaca atau menulis dan tidak tahu apa-apa tentang ilmu jiwa, jadi apa sebabnya sampai saya mudah percaya bahwa perasaannya benar?

Firdaus sesungguhnya tidak mengatakan bahwa ia mengenal saya. Sipir itu saja yang menduganya. Mengapa hal itu menjadi tanda bahwa sesungguhnya Firdaus mengenal saya, tidak

ada alasan bagi saya untuk merasa sakit hati. Penolakannya untuk bertemu dengan saya bukan ditujukan kepada diri saya pribadi, tetapi terhadap dunia dan setiap orang yang ada di dunia ini.

Saya mulai melangkah menuju mobil saya dengan maksud untuk meninggalkan tempat itu. Perasaan-perasaan subjektif semacam yang mengekang saya tidak layak bagi seorang pakar ilmiah. Saya hampir tersenyum sendiri ketika saya membuka pintu mobil saya. Sentuhan pada permukaan mobil itu telah membantu saya untuk menemukan identitas saya kembali, harga diri saya sebagai seorang dokter. Apa pun keadaannya, seorang dokter sudah tentu lebih dihargai daripada seorang wanita yang telah dihukum mati karena membunuh. Sikap wajar saya terhadap diri-sendiri (suatu sikap yang jarang lepas dari diri saya) berangsur-angsur kembali. Saya putar kunci kontak dan saya tancap gas, sambil melemparkan perasaan yang datang dengan mendadak (yang kadang-kadang menghantui diri saya di saat-saat kegagalan), seakan-akan saya ini hanya seekor serangga yang tak berarti, yang sedang merayap di antara beribu-ribu ekor serangga lainnya yang sama. Terdengar suara di belakang saya, lebih keras dari suara deru mobil:

“Dokter! Dokter!”

Itu suara sipir. Ia lari menghampiri saya dengan napas terengah-engah. Suara napasnya mengingatkan saya pada suara-suara yang seringkali saya dengar dalam mimpi-mimpi saya. Mulutnya melebar, dan begitu pula bibirnya, yang tetap membuka dan menutup dengan gerakan mekanis, seperti sebuah pintu yang bisa membuka dan menutup sendiri.

Saya dengar dia berkata, “Firdaus, Dokter! Firdaus ingin bertemu dengan Anda!”

Dadanya turun-naik dengan kuatnya, tarikan napasnya menjadi suatu rangkaian hembusan yang amat cepat, dan mata serta mukanya memantulkan suatu emosi luar biasa. Bila Presiden Republik secara pribadi minta saya datang menghadap kepadanya, kiranya si sipir penjara ini tidak akan hanyut oleh perasaan emosi yang berlebihan seperti ini.

Sebaiknya, malahan napas saya menjadi lebih cepat, seperti ketularan, atau lebih tepat, saya kekurangan napas, karena jantung saya berdenyut lebih keras daripada biasa. Saya tidak tahu lagi bagaimana saya ke luar dari mobil, juga tak tahu lagi bagaimana saya mengikuti sipir begitu dekat di belakangnya, sehingga kadang-kadang saya menyusulnya, atau malahan mendahuluinya. Saya berjalan dengan langkah-langkah yang cepat dan ringan, seakan-akan kaki saya tidak membawa badan saya. Diri saya penuh dengan perasaan yang menyenangkan, bangga dan bahagia. Langit berwarna biru dengan biru yang dapat saya tangkap dengan mata saya. Saya genggam seluruh dunia dalam kepalan saya; dunia ini milik saya. Perasaan yang pernah saya rasakan sekali di masa lalu, bertahun-tahun yang lalu. Saya sedang berjalan menuju pria pertama yang saya cintai untuk pertama kalinya. Saya berhenti sebentar di depan sel yang ditempati Firdaus untuk mengatur kembali napas dan merapikan kerah baju saya. Tetapi saya sedang mencoba untuk memperoleh ketenangan saya, untuk kembali pada keadaan saya yang wajar, kesadaran bahwa saya adalah seorang pakar ilmiah, seorang psikiater, atau sejenis itu. Saya mendengar anak kunci yang diputar ke dalam lubang kunci, berbunyi kasar, berisik. Suara itu mengembalikan diri saya sendiri.

Tangan saya mempererat genggaman pada tas kulit, dan suatu suara dalam diri saya berkata, “Siapakah gerangan wanita yang bernama Firdaus itu? Dia hanyalah … ” Tetapi kala-kata dalam hati itu segera berhenti. Sekenyong-konyong kami berhadapan muka. Saya berdiri terpaku diam, tak bergerak. Saya tidak mendengar denyut jantung saya, maupun bunyi anak kunci yang telah diputar kembali di lubangnya, menutup pintu yang berat itu di belakang saya. Seakan-akan saya mati di saat matanya menatap mata saya. Mata yang mematikan, seperti sebilah pisau, menusuk-nusuk, menyayat jauh ke dalam, mata itu menatap tanpa bergerak, tetap. Tak berkedip sedikit pun.

Tak ada urat sekecil apa pun pada wajah yang bergerak. Saya sadar kembali oleh suatu suara. Suaranya mantap, menyayat ke dalam, dingin bagaikan pisau, tak ada getaran sedikit pun dalam nadanya. Tak ada riak irama sedikit pun. Saya dengar ia berkata:

“Tutup jendelanya.”

Saya bergerak menuju jendela tanpa melihat dan menutupnya, melayangkan pandangan heran sekitar ruangan itu. Tak ada apa-apa dalam sel ini. Tak ada tempal tidur, atau kursi, atau apa pun yang dapat saya duduki. Saya dengar dia berkata:

“Duduklah di lantai.”

Badan saya membungkuk lalu duduk di lantai. Saat itu  bulan Januari dan lantainya tanpa alas, tetapi saya tak merasakan dinginnya. Seperti berjalan dalam tidur. Lantai dibawah saya dingin. Sentuhan yang sama, kemantapan dan rasa dingin telanjang yang sama pula. Tetapi rasa dingin itu tidak menyentuh saya, tidak mencapai saya. Rasa dingin lautan di dalam mimpi. Saya berenang mengarungi airnya. Saya telanjang dan tak pandai berenang. Namun saya tak merasakan dinginnya, juga tidak tenggelam di dalamnya. Suaranya pun seperti suara yang terdengar oleh orang yang sedang mimpi. Suaranya dekat saya, tetapi seakan-akan datang dari jauh, ber bicara dari jarak yang jauh tetapi timbul dari dekat. Karena kita tidak tahu dari mana suara itu muncul dari atas atau bawah, kiri ataupun kanan. Kita mungkin berpikir datangnya dari dalam bumi, jatuh dari atas atap, atau dari surga. Atau mungkin pula suara itu mengalun dari segala jurusan, seperti udara yang bergerak dari angkasa tiba di telinga kita.

Tetapi ini bukanlah impian. Ini bukan udara yang berhembus ke dalam telinga saya. Wanita yang duduk di lantai di depan saya benar-benar seorang wanita, dan suara yang memenuhi telinga saya dengan bunyinya, bergema di dalam ruangan sel, yang jendela serta pintunya tertutup rapat itu, hanyalah suara belaka, suara Firdaus.

“Biarkan saya berbicara jangan memotong pembicaraan saya. Saya tak punya waktu untuk mendengarkan Anda. Mereka akan datang menjemput saya pukul enam malam ini. Besok pagi saya tak akan berada di sini lagi. Saya juga tidak akan berada di tempat mana pun yang diketahui orang. Perjalanan ke suatu tempat yang tak seorang pun di dunia ini tahu letaknya, memenuhi diri saya dengan rasa bangga. Seumur hidup saya telah mencari sesuatu yang akan mengisi diri saya dengan perasaan bangga, membuat saya merasa lebih unggul dari siapa pun juga, terrnasuk para raja, pangeran dan para penguasa. Tiap kali saya mengambil surat kabar dan

menemukan gambar seorang lelaki yang merupakan gambar salah seorang dari mereka, saya akan meludahinya. Saya tahu, bahwa saya hanya menjatuhkan ludah di atas lembaran surat

kabar yang saya perlukan untuk mengalasi lemari dapur. Tetapi bagaimanapun juga, saya ludahi, dan saya diamkan ludah itu sampai mengering. Setiap orang yang melihal saya meludah di alas gambar itu mungkin berpikir bahwa saya mengenal lelaki tertentu itu secara pribadi. Tidak! Saya hanyalah seorang perempuan. Dan tak seorang pun perempuan yang mungkin mengenal semua

lelaki Yang gambarnya terpampang di surat-surat kabar. Karena bagaimanapun juga, saya hanyalah seorang pelacur yang sukses. Dan betapapun juga suksesnya seorang pelacur, dia tidak pernah dapat mengenal semua lelaki. Akan tetapi, semua lelaki yang saya kenai, tiap orang di antara mereka, lelah mengobarkan dalam diri saya hanya satu hasrat saja: untuk mengangkat tangan saya dan menghantamkannya ke muka mereka. Akan tetapi karena saya seorang perempuan, saya tak pernah punya keberanian untuk mengangkat tangan saya. Dan karena saya seorang pelacur, saya sembunyikan rasa takut itu di bawah lapis-lapis solekan muka saya. Karena saya telah mencapai sukses, rias muka saya selalu yang paling baik dan jenis yang paling mahal, seperti rias wanita-wanita lapisan atas yang terhormat. Saya selalu merawat rambut saya di tempat penata rambut yang biasanya melayani para wanita dari kalangan atas masyarakat. Warna lipstik yang saya pilih selalu yang “alamiah dan serius” sedemikian rupa, sehingga tidak menyembunyikan ataupun menitikberatkan daya tarik yang menggiurkan dari bibir saya. Garis-garis yang dibuat dengan keahlian yang cermat sekitar mata saya memperlihatkan suatu kombinasi yang tepat dari daya tarik dan penolakan, yang biasa disukai para isteri kaum pria berkedudukan tinggi dari kalangan penguasa. Hanya rias muka saya, rambut dan sepatu saya yang mahal itu saja yang masuk “kelas atas.” Dengan ijazah sekolah menengah dan nafsu keinginan yang tertekan, saya termasuk “kelas menengah.” Lahirnya saya tergolong kelas bawah.

ayah saya, seorang petani miskin, yang tak dapat membaca maupun menulis, sedikit pengetahuannya dalam kehidupan. Bagaimana caranya bertanam, bagaimana menjual kerbau yang lelah diracun oleh musuhnya sebelum mati, bagaimana menukar anak gadisnya dengan imbalan mas kawin bila masih ada waktu, bagaimana caranya mendahului tetangganya mencuri tanaman pangan yang matang di ladang. Bagaimana meraih tangan ketua kelompok dan berpura-pura rnenciumnya, bagaimana memukul isterinya dan memperbudaknya tiap malam. Setiap hari Jum’at pagi ia akan mengenakan sebuah galabeya yang bersih dan menuju mesjid untuk menghadiri shalat berjemaah mingguan. Saya melihat dia berjalan-jalan dengan lelaki lainnya bilamana ia memberi ulasan mengenai khotbah Jum’at, betapa meyakinkan cara Sang Imam berbicara sampai melebihi hal-hal yang tidak  dapat dilampaui. Karena, bukankah benar bahwa mencuri itu perbuatan buruk, dan membunuh itu perbuatan jahat, dan merampas kehormatan wanita merupakan perbuatan jahat, juga ketidakadilan, dan memukul manusia lain itu jahat . . .  ? Lagi pula siapa yang dapat membantah bahwa kepatuhan merupakan suatu kewajiban, dan mencintai tanah air kita pun demikian. Cinta pada sang penguasa dan cinta kepada Allah adalah satu dan tak dapat dibagi. Allah melindungi penguasa kita bertahun-tahun lamanya dan semoga beliau tetap menjadi sumber ilham dan kekuatan bagi negara kita, Bangsa Arab dan umat manusia seluruhnya. Saya dapat melihat mereka berjalan-jalan melalui lorong-lorong sempit yang berliku-liku sambil mengangguk-anggukkan kepala rnasing-masing dengan kagum, menyetujui segala hal yang telah diucapkan Sang Imam yang suci. Saya perhatikan mereka, sementara mereka rnengangguk-anggukan kepala mereka, menggosok-gosokkan tangan mereka satu sama lainnya, mengusap dahi sambil menyebut nama Allah, memohon berkah_Nya, mengulangi ayat-ayatnya dengan suara parau dan lembut, menggumam dan berbisik tanpa istirahat sejenak pun.

Di atas kepala, saya menjunjung sebuah kendi tembikar yang berat penuh berisi air. Karena beratnya, kadang- kadang leher saya tersentak ke belakang, ke kiri atau kekanan. Saya harus mengerahkan tenaga saya untuk tetap menjaga keseimbangan di atas kepala saya, dan menjaga agar jangan jatuh. Saya gerakkan kaki dengan cara yang diajarkan Ibu kepada saya, sedemikian rupa sehingga leher saya tetap tegak. Saya masih muda ketika itu, dan payudara saya belum membulat. Saya belum tahu apa-apa tentang laki-Iaki. Tetapi saya dapat mendengar mereka menyerukan nama Allah dan memohon berkah-Nya, atau mengulangi ayat-ayat-Nya dalam nada parau dan lembut. Saya mengamati mereka mengangguk-anggukkan kepala, atau bila sedang menggosok-gosokkan tangan mereka, batuk-batuk, atau berdehem dengan bunyi yang agak serak, atau menggaruk terus-menerus di bawah ketiak dan di antara paha mereka. Saya melihat mereka sedang mengamati apa yang terjadi di sekitar mereka dengan pandangan mata yang memancarkan sikap waspada, ragu-ragu dan dengan sembunyi-sembunyi, mata siap untuk menerkam mangsa, penuh sikap agresif yang tampak seperti sikap merendahkan diri.

Kadang-kadang saya tidak dapat membedakan yang mana di antara mereka itu ayah saya. la sangat mirip dengan mereka sehingga sulit mengetahuinya. Demikianlah, maka pada suatu hari saya bertanya kepada Ibu tentang dia. Apa sebabnya Ibu sampai melahirkan saya tanpa seorang ayah? Mula-mula ia memukul saya. Kemudian ia membawa seorang wanita yang membawa sebilah pisau kecil atau barangkali pisau cukur. Mereka memotong secuil daging di antara kedua paha saya. Saya menangis semalam suntuk. Keesokan paginya Ibu tidak menyuruh saya ke ladang. Biasanya ia menyuruh saya membawa beban pupuk di atas kepala saya ke ladang. Saya lebih suka ke ladang daripada tinggal di rumah. Di sana, saya dapat bermain-main dengan kambing menaiki kincir air, dan berenang dengan anak-anak lelaki di kali. Seorang anak lelaki kecil yang bernama Muhammadain biasanya mencubit saya dari bawah dan mengikuti saya ke sebuah teratak kecil yang terbuat dari batang-batang pohon jagung. la menyuruh saya tiduran di atas tumpukan jerami, dan mengangkat galabeya saya. Kami bermain-main menjadi pengantin perempuan dan pengantin laki-laki.”

Dari bagian tertentu tubuh saya, di bagian mana saya tidak tahu dengan pasti, timbul suatu perasaan nikmat luar biasa. Kemudian saya akan menutup mata dan meraba tempat itu dengan tangan saya. Pada saat menyentuhnya, saya menyadari bahwa perasaan itu telah saya rasakan sebelumnya. Kemudian kami akan mulai bermain lagi sampai matahari terbenam, dan kami dapat mendengar suara ayahnya memanggil-manggil namanya dari arah ladang yang berdekatan, dan ia akan segera lari sambil berjanji akan datang lagi keesokan harinya. Tetapi Ibu saya tidak menyuruh saya pergi ke ladang lagi. Sebelum matahari mulai muncul di langit, ia menyentuh bahu saya dengan kepalan tangannya sedemikian rupa sehingga saya akan terbangun, mengangkat kendi tembikar dan pergi untuk mengisinya dengan air. Sekembalinya, saya akan menyapu kandang ternak lalu membuat jajaran gumpalan kotoran yang saya jemur di sinar matahari. Pada hari membakar roti, saya akan membuat adonan tepung untuk membuat roti. Membuat adonan saya lakukan sambil berjongkok di lantai dengan palung dijepit di antara kedua paha saya. Seeara teratur, saya angkat gumpalan yang kenyal itu ke atas dan membiarkannya

jatuh kembali ke dalam palung. Panasnya tungku mengenai muka saya, menggosongkan ujung-ujung rambut saya. Galabeya saya acapkali menggelosor sehingga paha saya terbuka, tetapi tidak saya perhatikan, sampai pada suatu saat saya melihat tangan paman saya pelan-pelan bergerak dari balik buku yang sedang ia baca menyentuh kaki saya. Saat berikutnya saya dapat merasakan tangan itu menjelajahi kaki saya sampai paha dengan gerakan yang gemetaran dan sangat berhati-hati. Setiap kali terdengar suara langkah kaki orang di pintu rumah kami, tangannya akan segera ditarik kembali. Tetapi, apabila segala sesuatu di sekeliling kami menjadi sunyi kembali, hanya sekali-sekali dipecahkan oleh bunyi ranting-ranting kayu bakar dipatahkan antara jari-jari say a untuk memasukkan ke dalam tungku, dan bunyi napasnya yang teralur sampai di telinga saya dari balik buku sehingga saya tidak dapat mengatakan, apakah ia sedang mendengkur dengan tenangnya dalam tidur atau matanya terbuka lebar terengah-engah, dan tangannya akan terus menekan paha saya dengan meremas secara kasar. la sedang melakukan sesuatu yang telah dilakukan Mohammadain terhadap saya sebelumnya. Sebenarnya, apa yang sedang ia lakukan lebih dari itu. Sebenarnya ia melakukan hal yang lebih jauh dari itu, tetapi saya tidak lagi merasakan kenikmatan yang menyebar dari bagian tubuh saya yang tidak diketahui tapi yang sudah terbiasa itu. Saya pejamkan mata saya dan berusaha untuk mencapai rasa senang, yang pernah saya rasakan sebelumnya tetapi tidak berhasil. Seakan-akan saya tidak ingat lagi tempatnya yang tepat, atau seakan-akan sebagian dari tubuh saya telah pergi dan tidak akan kembali….

………bersambung ke Bag. 2

Oleh :

Nawal el-Saadawi, Judul Asli : “Women at Point Zero”, Translation

Copyright © Zed Books Ltd. 1983, London,

Diterjemahkan oleh Amir Sutaarga

Hak terjemahan Indonesia

pada Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Copyright © http://ac-zzz.blogspot.com/

 

%d bloggers like this: