19 September

oleh : Yusuf Wibisono

Kau tak pernah menulis puisi untukku. Mungkin tak perlu. Sebab kasih sayangmu lebih indah dari sajak cinta. Tidur malammu yang penuh jaga, telah menjelma lagu malam yang mendayu. Hati yang lapang pada semua khilaf, serupa hikayat tentang
telaga jernih di hati perempuan.

Airmata yang sesekali menetes di pipi, seperti kristal berkilauan dalam lukisan embun pagi. Lalu, puisi apalagi yang kuperlukan? Hari ini, 12 tahun yang lalu, kugenggam tanganmu erat.
“Kini, kau nakhodaku”, bisikmu ikhlas.

Aku yang gemetar, membawamu ke atas bahtera. ingin laut telah meniupkan banyak gelombang.
Dalam terpaannya yang bertubi, kita tersenyum. Sebab, cinta selalu lebih kuat dari gelombang.
Duabelas tahun, dan kapal itu terus berlayar. Dengan lebih riang, sebab lewat rahimmu, Tuhan
telah mengirim tiga bocah lucu yang terus beranjak besar.

Duabelas tahun, kekasih. Perayaan tanpa pesta. Hanya bisikan sederhana; menjagamu, menyayangmu, seperti yang terucap 12 tahun lalu!

2 Comments

  1. Nova said,

    February 10, 2012 at 1:57 am

    hhmm,,i like this articl😀

    • dewasastra said,

      February 13, 2012 at 3:51 am

      Makasih.. sering-sering main ke sini yaaa …😀


%d bloggers like this: