‘Dia’ dalam pena sang Pujangga

Dia, si pujangga cinta terus menyebut nama “cinta” yang telah memenjarakan hatinya. Namun teriakkannya hanya menggema dicakrawala,memantul dari satu bukit ke bukit yang lain.
Sedang “cinta” yang nun jauh disana tak bisa mendengar. Dia memanggil nama cinta ribuan kali, dan selalu saja sia-sia, tidak ada yang mendengar atau menjawab seruannya.
Ditempat yang jauh itu jiwa “cinta” selalu mengenang dia, siang terbayang malam dikenang, siang mengharap malam meratap.
Hasrat menyala-nyala dalam hati yang terbakar kerinduan, rasa cinta itu semakin mendalam,walau kedua raga saling berjauhan.
Getar perasaan “cinta” terhubung juga dengannya, bila “cinta” semakin menderita maka si dia juga semakin menjadi-jadi, mengembara sendirian dipadang imajinasi serta mengabaikan segala cemoohan orang sekitarnya yg menganggap cintanya pada “cinta” hanyalah sebuah cinta sesaat yang biasa dihinggapi anak muda yang dengan sendirinya sirna bersama sang waktu, dan mereka sering mengolok-olok, menyebut dirinya sang pemimpi…
Ia ingin mengadukan nasibnya tetapi pada siapa?!..
Tidak ada yang bisa memahami perasaannya, hanya bebatuan dan lembah yang bisa memahami kesedihan hatinya…
Karena bukit dan lembah yang setia mendengarkan lolongan dia memanggil cinta. Bila kerinduan dia pada kekasihnya sudah tidak dapat terbendung, dadanya terasa sesak , pikirannya kalut, bagai tetesan embun jatuh kebumi airmata kesedihan dan keputusasaan mengalir deras dari pipinya yang pucat. Dia telah kehilangan akal sehatnya karena cinta, sirna pula kesadaran dirinya, jika sudah demikian syair-syair yang indah keluar dari bibirnya yang merah :
Duhai cinta…
Engkau adalah keharuman nafas surgawi, yang membuatku tak lagi mampu untuk memejamkan mata..
Sihirmu begitu mempesona, membuat hati yang gersang ini menciptakan kedalaman samudera yang nyaris sama dengan kedalaman jiwa…
Hanya untukmu seorang, seluruh kerinduanku, impianku, angan dan harapanku berlabuh, karena hanya engkaulah segala keinginan bermuara…
Wahai senandung pagi serta kicauan burung dipagi hari….
Maukah engkau menyampaikan salam rindu pada kekasihku….
Belailah rambutnya yang hitam berkilau untuk mengungkapkan dahaga cinta yang memenuhi hatiku……
Wahai semilir angin pagi yang mendamaikan dan menyejukkan jiwaku….
Sampaikan pada gadis yang memikat hati itu betapa pedih rasa hatiku jika tidak bertemu dengannya, hingga tak kuat lagi aku menanggung beban kehidupan….
Wahai semilir angin yang memporak-porandakan putik-putik bunga….
Tanyakan dirinya apakah dia masih mau berjumpa denganku?…
Apakah ia masih memikirkan diriku ?…..
Bukankah telah kukorbankan kebahagiaanku demi dirinya?…hingga diri ini terpenjara sepi dan terbalut kegelapan didasar samudera ?! …..
Wahai semilir harum -kelopak putik-putik bunga….
Maukah engkau membawakan keharuman rambutnya padaku sebagai pelepas rindu?
Sampaikan salam , beserta kidung surgawi -pesanku ini untuknya :
Duhai kekasih hati ,….
Hatiku telah dikuasai oleh pesona jiwamu, kecantikanmu menusuk hatiku laksana anak panah, hingga sayap yang sudah patah ini tidak mungkin dapat terbang…
Engkau laksana dewi dalam gemilang cahaya…
Hanya untukmu seorang jiwaku rela menahan kesedihan dan kehancuran..karena engkaulah menara kekuatan dan airmata kebahagiaan bagi segala prahara hidupku…
Keindahan parasmu laksana ramuan ajaib yang memabukkan diriku, desah suaramu laksana mantra sihir yang tidak bisa aku hindari, ia menjadi sumber kebahagiaan yang telah memikatku untuk selalu mengenangmu…
Aku melintasi lorong waktu, merangkak dalam kegelapan, terbalut debu dan luka…. dari setiap titik darah yang menetes ini, ku harap dirimu membukakan pintu bagi jiwaku….
Sebuah tempat dimana kudapat berteduh dan menyandarkan tubuh serta jiwaku, hingga kudapat merasakan sentuhan lembut jemari surgawi yang bersemayam direlung jiwaku….
Duhai belahan jiwaku,…
Dirimu selalu bertahta dihatiku …siang slalu kupikirkan dan malam menghiasi mimpi …
Airmataku pun telah mengering karena selalu meratap dan merindukanmu…
Jeritan hatiku bergema serta membelah kesunyian langit, memanggil namamu sebagai pengobat jiwa, penawar kalbu…
Entah mengapa badai dan prahara itu tiba-tiba datang, menghancurkan kebahagiaanku dan dirinya…
Separuh jiwaku beserta bahtera jiwaku hilang tersapu badai, terombang-ambing ia oleh gelombang lautan perasaan yang tak bertepi dan berdasar….
Dan demi rasa cintaku yang mendalam …Aku rela berada dikedalaman samudera yang dingin seorang diri…
Berteman lapar, menahan dahaga…
Wahai kekasihku, hidupku yang tidak berharga ini suatu saat akan lenyap….
Tetapi biarkan pesona kecantikanmu tetap abadi selamanya dihatiku…

%d bloggers like this: