Pengantar Teori Remaja dan Pergaulan Bebas

gambar pergaulan bebas

Perjalanan waktu yang terus berputar dan cepatnya pergantian zaman membuktikan bahwa bumi dari waktu ke waktu semakin tua, usia bumi bisa diibaratkan bagaikan kakek renta yang menuju sakaratul maut. Seiring dengan itu, isi dunia ini pun semakin heboh, bukan saja di kalangan para remaja, anak didik pun seolah-olah memamerkan kelihaiannya dalam bergaul, di mana anak didik tidak lagi memilih teman bergaulnya. Mereka terjebak dengan pergaulan yang tidak mempunyai batas atau yang disebut pergaulan bebas.

Harapan orang tua sejalan dengan tujuan pendidikan nasional secara integral, maka pembinaan intelektual, keterampilan dan kepribadian peserta didik diupayakan untuk mencapai standar positif dalam perspektif nasional dengan landasan konstitusional dan landasan idiil yang telah baku.[1] Pencapaian kondisi positif berdasarkan tolok ukur dengan kualitas yang berwawasan hakikat dan nilai-nilai hakikat supra positif dan konstruktif bagi pembangunan dan kehidupan bangsa, masyarakat serta bagi dirinya sendiri.[2] Dukungan moral peserta didik tingkat SD, SLTP, SLTA dimanifestasi dan termodifikasi dalam prestasi belajar. Pencapaian prestasi di lingkungan pendidikan formal baik di lembaga pendidikan umum maupun kejuruan memerlukan tanggapan balik yang positif dari pemerintah dengan tujuan agar peserta didik dapat menemukan harga dirinya sehingga dapat memberi pengaruh positif terhadap semua pihak. Dalam kenyataan, ada peserta didik berprestasi gemilang yang berasal dari keluarga ekonomi lemah, bahkan ada beberapa peserta didik berprestasi terpaksa meninggalkan bangku sekolah karena tekanan ekonomi yang sangat parah.
Pada hakikatnya peserta didik SD, SLTP, SLTA yang berprestasi dengan kondisi serba sulit di bidang ekonomi tetap menjadi tumpuan harapan di dalam proses global pembangunan nasional, khususnya di sektor pendidikan. Inilah harapan-harapan yang diinginkan oleh pemerintah dan orang tua yang selalu mendampingi anak-anaknya dalam berprestasi. Anak didik yang seharusnya menjadi harapan bangsa sekaligus menjadi ujung tombak yang bisa diandalkan oleh para orang tua di masa yang akan datang terlena dengan gemerlapnya pergaulan. Mereka terjebak dalam pergaulan yang tidak mempunyai batas atau yang disebut pergaulan bebas.

Era modern, demikianlah orang menyebut zaman propaganda. Di mana propagandanya telah meluluhkan  nilai-nilai moral di seluruh negara di dunia. Anak sekolah terpengaruh pada pergaulan bebas tanpa memperhatikan nilai-nilai agama. Akibatnya muncullah hal-hal yang tidak diinginkan seperti anak didik menjadi pecandu rokok, pacaran yang akhirnya hamil di luar nikah, tawuran yang berakibat perkelahian, selain itu tidak sedikit anak didik putus sekolah disebabkan oleh pergaulan bebas. Hal tersebut di atas, sangat berbahaya dalam pembentukan kepribadian anak menjadi anak yang bermoral, perubahan perilaku kehidupan manusia akibat pergaulan bebas. Hal ini dilakukan karena anak didik adalah bagian dari masa kini dan keseluruhan dari hari esok. Mereka adalah generasi penerus yang akan mengambil posisi kepemimpinan di masa depan, sebab anak didik adalah cerminan bangsa di masa kini dan di masa yang akan datang.
Ada peneliti remaja yang mengatakan bahwa anak didik sekarang mempunyai karakter yang seratus enam puluh derajat amat jauh berbeda dengan anak didik masa silam. Jika anak didik zaman dulu cenderung aktif, kreatif, ulet dan mau berusaha.[3] Sedangkan anak didik sekarang sudah kadung dimanjakan oleh segala macam pergaulan bebas yang mampu mencuci otak para anak didik menjadi seorang pemalas dan lamban dalam berfikir dan bertindak.

Apalagi ditambah dengan adanya teknologi yang tidak dibarengi kemajuan akhlak, maka teknologi itu menjadi boomerang bagi anak didik. Bagi sebagian orang, fenomena ini menjadi sebuah kekalutan tersendiri. Kekalutan dan ketegangan jiwa dan rasa aman bagi anak didik menjadi hal yang mahal. Lihat saja, setiap hari televise menyuguhkan tontonan gratis seks, kekerasan dan horror. Semuanya jelas meracuni pemikiran generasi sekarang. Akibatnya, kejahatan modern terkadang kelewat sadis di mata masyarakat. Di era modern ini pergaulan yang tidak bertanggung jawab dan mengingkari norma sudah menjadi hal yang biasa. Berbagai tindak kejahatan melalui pergaulan bebas sangat menghawatirkan. Tawuran pelajar, coret-coret dijalanan semua itu mengabaikan sisi kebaikan, kelembutan dan kemanusiaan.
Pergaulan bebas ini tidak hanya melanda kota-kota besar yang nyaris terdapat pembunuhan, pemerkosaan, penjambretan, tawuran pelajar dan hal-hal yang mengabaikan norma-norma agama dan kemanusiaan. Hal tersebut di atas juga terdapat di desa-desa, di mana akibat pergaulan bebas tanpa memilih teman bergaul sangat berakibat fatal, walaupun tidak separah yang terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Makasar dan kota-kota besar lainnya.

Daftar Pustaka:

[1]Sudarsono, S.H., M.Si., Kenakalan Remaja, Prevensi, Rehabilitasi dan Resosialisasi, (Jakarta: Rineka Cipta,  2004), h. 139

[2]Ibid, h. 139

[3]Faruq  Al-Farabi, Remaja  Gaul  Kebablasan,  Edisi  Terlaris,  (Jombang: Lintas Media, ttp) h. 21

About these ads
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 35 other followers

%d bloggers like this: