Pendidikan Kepribadian Anak

Model-model Pembentukan Kepribadian Anak
Kepribadian adalah “sifat hakiki yang tercermin pada sikap seseorang  atau   suatu  bangsa  yang  membedakan  dirinya dari orang atau bangsa lain;”1 Jika kita kaitkan dengan pengaruh lingkungan masyarakat, Lewin dalam teorinya sebagaimana dikutip oleh Sumadi Suryabrata, mengemukakan bahwa ; pribadi itu selalu ada dalam lingkungannya; pribadi tak dapat dipikirkan lepas dari lingkungannya.2 Selanjutnya masih dengan pendapat Lewin dia mengatakan bahwa ; “Ruang hidup atau disebut juga medan psikologis atau keseluruhan situasi” adalah totalitas realitas psikologis yang berisikan semua fakta yang dapat mempengaruhi tingkah laku individu pada sesuatu saat…3

Tahap Perkembangan Anak

Dalam tahap perkembangan anak ini penulis hanya mengemukakan tahapan-tahapan perkembangan yang berkenaan dengan permasalahan dalam penelitian, dimana tahapan ini memungkinkan anak dalam berinteraksi tercoraki dengan lingkungan masyarakatnya yaitu masa perkembangan anak akhir.

1) Masa masuk sekolah 2 – 6 tahun.

Pada masa ini sebagian para ahli menyebutnya sebagai masa pra sekolah (pre-school age). Para ahli pendidikan mengatakan demikian sebab kanak-kanak ini yang amat butuh  persiapan untuk memasuki sekolah dasar (SD), dan orang dewasalah yang  mempersiapkan mereka untuk itu. Pada usia ini sebagiannya memasuki pendidikan pada Taman Kanak-Kanak.4 Pada masa awal perkembangan anak, mereka telah menjalin hubungan timbal balik dengan orang-orang yang mengasuhnya. Kepribadian orang terdekat akan mempengaruhi perkembangan baik sosial maupun emosional.5 Dalam masa ini sebagaimana paparan diatas, perkembangan dan pembentukan kepribadian seorang anak akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan terdekatnya. Sosok manusia yang terdekatlah yang akan mencorakinya apakah itu orang tua, kakak, nenek atau justru pembantu rumah tangga. ebahagian orang tua menyerahkan pendidikan anak pada usia ini pada pendidikan pra sekolah yang kita kenal dengan istilah Taman Kanak-Kanak. Adapun tujuan pendidikan institusi ini adalah Membentuk manusia Pancasila sejati, yang bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, yang cakap, sehat dan terampil, serta bertanggung jawab terhadap Tuhan, Masyarakat dan negara.

Dengan tujuan khusus diantaranya ;

Memberi kesempatan kepada anak untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisik maupun psikologinya dan mengembangkan potensi  potensi yang ada padanya secara optimal sebagai individu yang unik.6

Untuk ruang lingkup program kegiatan belajar meliputi,

Pembentukan perilaku melalui pembiasaan dalam pengembangan moral Pancasila, agama, disiplin, perasaan / emosi, dan kemampuan bermasyarakat, serta pengembangan kemampuan berbahasa, daya fikir, daya cipta, serta keterampilan dan jasmani.7

2) Masa Kanak-Kanak Akhir

Secara umum masa kanak-kanak akhir yang disudahi dalam usia (+ 12/13 tahun) dan diawali dalam usia 6 tahun.

  • Sebagai masa masuk sekolah dasar (the elementary school age) nama pendirian pendidik. Anak mendapat nama demikian karena umumnya mereka sedang belajar di sekolah dasar dan mempelajari berbagai pengetahuan, keterampilan, dan sikap dasar yang diperlukan lebih lanjut.
  • Sebagai masa sok pintar (the smart age) penamaan oleh orang-orang tua. Anak dalam usia ini sering menonjolkan apa-apa yang baru diketahuinya dari sekolah dan dia bangga akan pengetahuannya.
  • Sebagai masa perluasan hubungan sosial. Anak mulai meningkatkan kesukaan menjalin persahabatan dengan anak-anak lain di lingkungannya yang lebih luas dibandingkan dengan masa kanak-kanak lain.

Pada masa kanak-kanak akhir (6 -12 thn) adalah masa sekolah pendidikan dasar diselenggarakan untuk  :

Mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah.8

Untuk proses pembelajaran pada Sekolah Dasar, sebagai upaya pembentukan pola perilaku anak didik, maka diberikan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan ( PPKN ) yang memiliki tujuan umum sebagai berikut :

Menanamkan sikap dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari yang didasarkan kepada nilai-nilai Pancasila baik sebagi pribadi maupun sebagai anggota masyarakat, dan memberikan bekal kemampuan untuk mengikuti pendidikan di SLTP.9

Disamping memberikan landasan bagi kelanjutan pendidikan pada jenjang berikutnya, pembelajaran pada Sekolah Dasar (SD) merupakan masa pembentukan kepribadian yang cukup penting bagi pengembangan kepribadian anak selanjutnya.

3). Masa pubertas dan masa remaja awal

Usia remaja ini dimasuki oleh seorang anak + 12/13 – 21/22 tahun. Masa remaja awal bertumpang tindih dengan masa pubertas yang berada dalam usia 11./12 – 13/14

Ciri khas masa ini adalah : ketidak stabilan keadaan perasaan dan emosi – remaja mengalami “badai topan “ dalam kehidupan perasaan dan emosinya, termasuk ketidak tentuan cita-cita dan mudah terombang-ambing oleh pengaruh menarik.10

Untuk usia ini seorang anak berada pada jenjang pendidikan SLTP dan SLTA. Pada jenjang pendidikan ini, sebagaimana telah diuraikan  pada masa kanak-kanak akhir, diberikan pula pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN) sebagai materi lanjutan pemberian pendidikan moral pada anak. Berikut ini penulis uraikan salah satu tujuan pembelajaran PPKN Kelas II SLTP, sebagai berikut ;

  • Siswa mampu menentukan pilihan yang benar serta mengamalkan suatu sikap dan perilaku berdasarkan aturan dan moral.
  • Siswa berani menyatakan pendapat, ide, gagasan dengan didasari moral dan aturan yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
  • Siswa mampu melaksanakan nilai moral dan aturan sebagai landasan bersikap dan berperilaku dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.11
  • Dengan demikian jelaslah bahwa terlihat adanya hubungan antara  pendidikan dengan pembentukan perilaku dan kepribadian anak. Sebagai catatan bahwa selain pendidikan PPKN, seorang siswa diberikan pula pendidikan keagamaan yang kesemuanya itu adalah pembentukan pola kepribadian anak sesuai dengan kefitrahan anak didik.
  • Selain dua mata pelajaran tersebut untuk siswa SLTP dan SLTA diberikan pula bimbingan dan konseling yang bertujuan “membantu siswa untuk memahami dan mengadakan penyesuaian kepada diri sendiri, lingkungan sekolah dan lingkungan sosial”.12
  • Masa remaja akhir. Dengan berakhirnya masa remaja awal maka anak mulai memasuki masa remaja akhir yang disebut “Young men” atau young women. Masa ini dimulai pada usia 21/22 dengan ciri-ciri khas, stabilitas emosi yang kian membaik, citra diri dan sikap pandangan yang lebih realistis, menghadapi masalahnya secara lebih matang, yang diikuti dengan ketenangan dalam hal perasaan. 13

Untuk konsep pengembangan dan pola pembentukan kepribadian dalam Islam telah jelas, sebagaimana kutipan ayat berikut ini ;

Terjemahannya ; Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang-orang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah ( QS- Al Ahzab ; 21).[14]

Pada masa remaja akhir inilah sebahagian anak ada yang menempuh jenjang pendidikan, bekerja bahkan ada yang telah berumah tangga.

Untuk mereka yang menempuh pendidikan tinggi maka pola pembentukan kepribadian anak masih berlanjut meskipun pada usia ini anak telah terbentuk kepribadiannya. Namun demikian pada pendidikan tinggi remaja setidaknya telah mulai mempelajari pola pembentukan pribadi orang lain dan hal ini merupakan pendidikan secara tidak langsung.

Adapun mereka yang tidak melanjutkan pendidikan kejenjang pendidikan tinggi, tugas untuk melanjutkan pola pembentukan ini adalah orang tua secara langsung dan lingkungan secara tidak langsung karena berlaku tanpa disadari.

Pustaka:


1    Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, cet. II (Jakarta; Balai Pustaka, 1989)., h. 701

2    Sumadi Suryabrata, BA, Drs, MA, Eds,Ph.D. Psikologi Kepribadian, cet. VII ( Jakarta ; PT Raja Grafindo Persada, 1995)., h. 226

3 Ibid., h. 228
4 Andi Mapiere, Buku Pegangan Pengantar Bimbingan dan Konseling di Sekolah, ( Surabaya ; Usaha Nasional, t. th.)., h., 25-26
5 5 Soemiarti Patmonodewo, Pendidikan Anak Prasekolah, cet. I ( Jakarta ; PT Rineka Cipta, 2000)., h.30
6 Ibid.,h. 58
7 Moeslichatoen R., M.Pd. MEtode Pengajaran di Taman Kanak-Kanak, ( Jakarta ; Kerjasama, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, dengan PT Rineka Cipta,  1999)., h. 3
8 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Himpunan Peraturan Perundang-Undangan Republik Indonensia, Bidang Pendidikan dan Kebudayaan, ( Jakarta ; Sekretariat Jenderal, Depdikbud, 1992)., h. 10
9 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kurikulum Pendidikan Dasar GBPP Kelas VI, Sekolah Dasar, (Depdikbud, Dirjend Pendidikan Dasar dan Menengah, 1994/1995).,h. 2
10 10  Ibid.,  h. 29-30
11 Agus Dwiyono dkk. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Untuk Kelas 2 SLTP, edisi II ( Jakarta ; Yudhistira, 2001)., h. 8
12 Dewa Ketut Sukardi, Seri Bimbingan Organisasi Administrasi Bimbingan Konseling di Sekolah, ( Surabaya; Usaha Nasional, t.Th).,h. 54
13   Ibid., h. 32
14 Departemen Agama RI. Op.Cit., h. 602.
About these ads
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 34 other followers

%d bloggers like this: