Manajemen Pendidikan

Pengertian Manajemen Pendidikan

Manajemen secara umum dapat diartikan sebagai penataan yang berkaitan dengan pengadministrasian. Oleh karena itu tidak heran jika kemudian manajemenpun selalu diidentikkan dengan administrasi. Perkembangan manajemen dalam kaitannya dengan penataan atau pengadministrasian tersebut kemudian menjadi salah satu disiplin ilmu karena aktivitas yang berhubungan dengan manajemen tersebut dilakukan secara sistematik dalam rangka berusaha memahami mengapa dan bagaimana orang dalam bekerja sama.

Disamping itupula bahwa manajemen bias juga diartikan sebagai suatu kiat karena hal ini berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai, sehingga memerlukan cara-cara tersendiri dalam mengatur orang lain menjalankan tugas-tugas profesinya. Karena manajemen bersentuhan dengan kegiatan atau pekerjaan maka sangat membutuhkan keahlian khusus untuk menjadikan setiap pekejaan bear-benar mencapai hasil yang lebih baik.

Danial mendefenisikan manajemen adalah “as the accomplishment of desired objectives by establishing an environment favoriable to performance by people oerating inorganzed group[1] artinya dalam bahasa Indonesia bahwa manajeen sebagai usaha pencapaian tujuan yang diinginkan dengan membangun suatu lingkungan (suasana) yang “favorable” terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh orang-orang dalam kelompok terorganisir.

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka dapat dijelaskan bahwa pada hakikatnya manajemen bertujuan untuk melaksanakan gugusan kegiatan administrasi agar beljalan sesuai dengan pola dan rencana yang dibuat bersama. Tanpa manajemen yang baik, sukar diperoleh suatu koordinasi usaha kerja  sama individu, lebih-lebih apabila administrasi itu berlangsung dalam organisasi yang kompleks dan besar.

Konsep-konsep pengorganisian lebih banyak dikenal dengan istilah pengelolaan, perencanaan dan manajerial. Oleh karena itu, maka dalam pembahasan kajian terhadap administrasi lebih diorientasikan pada konsep manajemen. Manajemen  sendiri merupakan istilah yang sangat populer hampir disemua lapangan kerja, hal ini dikarenakan orientasi manajemen  itu sendiri bertumpu pada upaya menciptakan sistem kerja yang lebih baik sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan konsumennya.

Berangkat dari sifatnya yang universal itu, melahirkan perbedaan-perbedaan penafsiran dalam hal memaknai istilah manajemen . Akan tetapi perbedaan-perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi suatu yang patut diperdebatkan, sebaliknya ragam perbedaan justru dapat dijadikan sebagai sarana untuk memperkaya pengetahuan tentang apa dan bagaimana manajemen  dapat diterapkan dan dikembangkan.

Ada beberapa perbedaan pendapat tentang pengertian manajemen  itu sendiri yakni :

  1. Manajemen  merupakan inti dari administrasi;
  2. Manajemen  lebih luas dari administrasi;
  3. Manajemen  identik dengan administrasi.[2]

Memperhatikan penegasan point-point di atas dapatlah dipahami bahwa istilah manajemen  dapat dilihat dari segi penataan sistem kelembagaan menuju tercapainya cita-cita bersama dengan mengedepankan  pola kerjasama yang sistematik dan komprehensif.

Menurut Gaffar bahwa manajemen pendidikan  mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sitematik, sistemik dan komprehensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan .[3]

Berangkat dari paparan seperti itu jelas sekali bahwa mempersoalkan manajemen  berarti mempersoalkan optimalisasi kinerja setiap personal pada lembaga-lembaga tertentu atau bidang usaha tertentu. Hal ini dikarenakan manajemen  sendiri mengulas tentang bagaimana peran-peran evaluasi, kontrol dan penilaian dalam pengelolaan suatu kinerja yang erat hubungannya dengan apresiasi terhadap moral maupun material.

Sehubungan dengan itu, maka ada tiga unsur dasar manajemen  yang perlu diperhatikan yaitu :

  1. Usur ide-ide (ideas) yang berkaitan dengan pemikiran konseptual di mana perencaan merupakan suatu bagian terpenting;
  2. Unsur sesuatu (things) yang berkaitan dengan administrasi; dan
  3. Unsur manusia (people) yang berkaitan dengan bagaimana cara mengarahkan manusia (kepemimpinan).[4]

 Dalam pandangan tersebut, maka manajemen  sendiri melingkupi persoalan-persoalan kemampuan seseorang dalam melakukan plan program yang rasional, penataan sistem pengelolaan dan pengembangan administrasi serta pengawasan terhadap kinerja bawahannya, sekaligus menjadi dasar penataan seluruh perangkat pendukung sehingga melahirkan suatu kinerja yang bermutu dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pada penjelasan-penjelasan sebelumnya bahwa manajemen  dan administrasi memiliki persamaan, akan tetapi juga terdapat perbedaan-perbedaan yang hanya disebabkan oleh objeknya masing-masing.

Untuk mempermudah serta menyederhanakan pemahaman tentang manajemen  berikut salah satu pendapat yang dapat dipaparkan :

  1. Manajemen  adalah untuk mencapai tujuan bersama dengan orang lain;
  2. Administrasi adalah mengelola dan mengatur rincian kerja dan tugas para pelaksana.
  3. Kepemimpinan adalah mempengaruhi orang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.[5]

 Dalam paparan tersebut, maka manajemen pendidikan  atau lebih dikenal dengan manajemen kelembagaan pendidikan Islam pada dasarnya lebih berorientasi pada eksistensi seorang pimpinan sekolah/madrasah dalam membangun lembaga yang dipimpinnya untuk merealisasikan tujuan institusional melalui pengaturan kerja se-efektif dan seeefisien mungkin sehingga menghasilkan lembaga pendidikan yang berkualitas.

Menurut Stoner bahwa :

 Manajemen  sesungguhnya merupakan perencanaan, penataan, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.[6]

Memperhatikan pandangan Stoner tersebut, dapat dimengerti bahwa manajemen  sendiri merupakan usaha dalam rangka memanfaatkan potensi-potensi yang dimiliki oleh masing-masing lembaga yang dibangun dalam sistem kerja sama guna pencapaian tujuan, melalui plan program yang rasional serta manajemen dan pengawasan yang objektif dan proportional.

Setelah memahami istilah manajemen  lewat berbagai macam pandangan dari tinjauan yang berbeda, maka uraian berikut akan melihat secara khusus tentang manajemen kelembagaan pendidikan.

Istilah manajemen kelembagaan pendidikan merupakan terjemahan dari “school-based management”. Di mana istilah ini pertama kali dipopulerkan di Amerika Serikat, ketika masyarakat mulai mempertanyakan relevansi pendidikan dengan tuntutan masyarakat setempat.[7]

Dilihat dari fakta sejarah lahirnya istilah Manajemen kelembagaan pendidikan Islam , maka ada hal yang cukup menarik, yaitu latar belakang lahirnya istilah Manajemen kelembagaan pendidikan yang menganalisa perihal relevansinya dengan tuntutan masyarakat. Hal ini berarti bahwa upaya pengendalian, planing dan manajemen dalam lingkungan pendidikan lebih mengarah kepada pemenuhan tuntutan masyarakat sesuai dengan arus perkembangan yang sedang berlangsung. Oleh karena itu, maka keterlibatan masyarakatpun haruslah dijadikan suatu kekuatan bagi seorang pimpinan lembaga-lembaga pendidikan beserta seluruh stafnya guna mencapai tujuan-tujuan pendidikan mulai dari tujuan intsruksional, tujuan kurikuler, tujuan institusional sampai kepada tujuan .

Dalam pelaksanaan Manajemen kelembagaan pendidikan ini sesungguhnya menjadi suatu keuntungan dan peluang besar bagi masing-masing lembaga pendidikan untuk memacu dan mensinergikan potensi-potensi yang dimilikinya secara otonom tanpa ada intervensi dari pihak manapun.

Melalui pengelolaan dan manajemen seluruh sistem yang terdapat dilingkungan pendidikan, diharapkan reformasi pendidikan dapat dilakukan melalui penyediaan pendidikan yang lebih baik dan memadai bagi peserta didik. Kewenangan yang bertumpu pada sekolah merupakan  hal pokok dari Manajemen kelembagaan pendidikan Islam yang diharapkan memiliki tingkat efektivitas serta dapat memberikan beberapa keuntungan sebagai berikut :

  1. Kebijaksanaan dan kewenangan sekolah membawa pengaruh langsung kepada peserta didik, orang tua dan guru;
  2. Bertujuan bagaimana memanfaatkan sumber daya lokal;
  3. Efektif dalam melakukan pembinaan peserta didik seperti kehadiran, hasil belajar, tingkat pengulangan, tingkat putus sekolah, moral guru dan iklim sekolah; dan
  4. Adaya perhatian bersama untuk mengambil keputusan, memberdayakan guru, manajemen  sekolah, rancang ulang sekolah, dan perubahan perencanaan.[8]

 Banyak hal yang dapat dilakukan oleh masing-masing top menejer atau pimpinan pada setiap lembaga pendidikan, akan tetapi perlu perhatian secara khusus bagaimana melibatkan masyarakat, guru dan siswa sebagai kelompok-kelompok pendukung pendidikan yang dapat mendorong. Akan tetapi, yang perlu kemudian untuk ditinjau adalah kesiapan dari seluruh elemen pendukung dalam membangun lembaga pendidikan yang benar-benar menjadi agen pencipta sosok generasi yang memiliki sumber daya manusia yang handal dan siap pakai di berbagai sektor kehidupan masyarakat.

Selanjutnya dalam penerapan Manajemen kelembagaan pendidikan Islam  seorang pimpinan harus menyadari sepenuhnya atas amanah dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya.dan menghindarkan diri dari sikap-sikap yang menggambarkan otoritas mutlak, sehingga segala keputusan selalu berasal dari pimpinan, ketika ini terjadi maka Manajemen kelembagaan pendidikan Islam-pun akan mengalami benturan-benturan.


About these ads

1 Comment

  1. March 7, 2012 at 3:45 am

    [...] Manajemen Pendidikan [...]


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 34 other followers

%d bloggers like this: