Pengertian Belajar

Hayadin mengungkapkan bahwa “Lahir dan meninggal adalah dua ujung dari kutub waktu kehidupan manusia. Manusia mengisi dua kutub tersebut (lahir dan meninggal) dengan berbagai aktivitas yang beragam. Dan aktivitas manusia yang paling populer adalah belajar dan bekerja”.
Belajar sebagai salah satu aktivitas populer manusia sebagaimana ungkapan Hayadin di atas, merupakan sebuah aktivitas penentu keberhasilan manusia dalam bekerja. Sehingga kita perlu memahami dan mengkaji makna tentang belajar itu sendiri sebelum melangkah lebih jauh.

Dalam dunia pendidikan pemahaman guru terhadap pengertian belajar dan pembelajaran akan mempengaruhi perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Dari pengertian belajar mengajar inilah akan lahir beragam kegiatan yang mungkin dapat dilakukan, baik oleh siswa maupun oleh guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.
Mengapa orang belajar, bagaimana cara orang belajar, dan untuk apa orang belajar, serta apa saja yang ia pelajari. Dimana saja orang dapat belajar, dari siapa orang bisa belajar, bagaimana keadaan hasil belajar yang diperoleh seseorang. Itu semua adalah sebagian dari pertanyaan seputar belajar yang memerlukan jawaban dari para pakar dan ahli pendidikan.

H Nashar memberikan definisi bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku, perubahan tingkah laku itu mengarah pada tingkah laku yang lebih baik, yang terjadi melalui latihan dan pengalaman.
Sardiman mendefinisikan bahwa:” belajar senantiasa merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, medengarkan, meniru dan lain sebagainya”.  Hal ini tampak senada dengan yang diungkapkan oleh Throndike yang mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus (yang mungkin berupa pikiran, perasaan atau gerakan) dan respon (yang juga bisa berupa pikiran, perasaan atau gerakan). Dalam hal ini menurut Hamzah Uno bahwa menurut Throndike di atas perubahan tingkah laku itu bisa berwujud sesuatu yang konkret (dapat diamati), atau yang non konkret (tidak bisa diamati).
W.H Burton mengemukakan bahwa: “Learning is a change in the individual due to intruction of the individual and his enviroment, which fells a need and makes him more capable of dealing adequately with his enviroment” kalau diartikan secara bebas adalah: “Belajar adalah perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya”
Dengan demikian, dari tiga pendapat diatas yang mengemukakan definisi tentang belajar, dapat ditarik sebuah kesimpulan awal dari ketiga definisi di atas bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang merubah tingkah laku subyek belajar dari suatu keadaan tertentu kepada keadaan lain yang lebih baik dari sebelumnya. Dalam pengertian ini “perubahan” yang berarti bahwa seseorang yang telah mengalami proses belajar akan mengalami perubahan tingkah laku, baik dalam aspek pengetahuannya, keterampilannya, mapun dalam sikapnya. Perubahan tingkah laku dalam aspek pengetahuan ialah, dari tidak mengerti menjadi mengerti, dari bodoh menjadi pintar; dalam aspek keterampilan adalah dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak terampil menjadi terampil; dalam aspek sikap ialah, dari ragu-ragu menjadi yakin, dari tidak sopan menjadi sopan, dari kurang ajar menjadi terpelajar. Hal ini merupakan salah satu kriteria keberhasilan belajar yang diantaranya ditandai oleh terjadinya perubahan tingkah laku pada diri individu yang belajar. Tanpa adanya perubahan tingkah laku, belajar dapat dikatakan tidak berhasil atau gagal.
Ernest R Hilgar mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses di mana ditimbulkan atau diubahnya suatu kegiatan karena mereaksi suatu keadaan. Perubahan itu tidak disebabkan oleh proses pertumbuhan (kematangan) atau keadaan organisme yang sementara (seperti kelelahan atau pengaruh obat-obatan).”
H.C Witherington mengemukakan bahwa belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru dari reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan kepribadian atau suatu pengertian.
Dalam hubungannya dengan pengetahuan, secara spesifik Hubbard mendefinisikan bahwa: “belajar bukan sekedar memperoleh fakta lebih banyak dan lebih banyak lagi. Fakta adalah sesuatu yang diakui sebagai kebenaran dan memperolehnya lebih banyk lagi bukanlah belajar. Belajar adalah memahami hal-hal baru dan mengetahui cara-cara yang lebih baik untuk melakukan banyak hal.
Dari pengertian di atas menunjukkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku atau kecakapan manusia. Perubahan tingkah laku ini bukan disebabkan oleh proses pertumbuhan yang bersifat fisiologis atau proses kematangan. Perubahan yang terjadi karena belajar, dapat berupa perubahan-perubahan dalam kebiasaan, kecakapan-kecakapan atau dalam ketiga aspek yakni pengetahuan, sikap dan keterampilan.
Kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan. Hal ini mengandung arti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung pada bagaimana proses belajar yang dialami oleh peserta didi atau siswa. Dalam hal ini ujung tombaknya adalah tentu fgur sentral pembelajaran yakni guru.
Pandangan dan pemahaman seorang guru terhadap pengertian belajar akan mempengaruhi tindakannya dalam membimbing siswa untuk belajar. Seorang guru yang mengartikan belajar sebagai  menghafal fakta tentunya akan lain cara mengajarnya dibandingkan dengan guru lain yang mengartikan bahwa belajar sebagai sebuah proses perubahan tingkah laku. Tentunya hal ini akan lebih buruk lagi jika guru tidak mengetahui dan memahami arti belajar sesungguhnya. Sehingga dalam membelajarkan siswa menjadi tanpa tujuan dan dengan sendirinya akan tanpa makna bagi siswa mapun bagi guru itu sendiri. Hal ini tergambar pada diri golongan guru yang tidak profesional. Hal ini juga sangat berpengarauh pada bagaimana guru mengajar kepada siswanya. Untuk itu, penting artinya  pemahaman guru akan penertian belajar.
Selanjutnya kita beralih dari pengetian belajar pada pengertian mengajar, natara lain yang dikemukakan oleh Jeroma S. Burner mengemukakan bahwa “mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh setiap siswa.”  Teknik untuk menyederhanakan bahan yang disajikan tersebut menurut menurut Burner adalah dengan cara enactive, iconic, dan symbolic. Penyajian enactive adalah penyajian suatu bahan pelajaran dalam bentuk gerak atau dalam bentuk psikomotor. Cara penyajian ini amat sederhana, konkret, dan dapat dikatakan primitif. Penyajian iconic melibatkan penggunaan grafik dalam penyajian suatu ide, objek atau prinsip. Cara penyajian ini lebih abstrak bila dibandingkan dengan penyajian enactive. Sedangkan penyajian syimbolic adalah penyajian menggunakan bahasa dan penyajiannya hendaknya mengikuti perkembangan jiwa anak. Dengan demikian, guru dapat memilih cara penyajian mana yang akan diterapkan dalam menyampaikan materi pelajarannya kepada siswanya, dengan memperlihatkan tingkat perkembangan jiwa anak tersebut.
Guru dalam hal ini sebagai figur sentral dalam kegiatan mengajar perlu sekali menganalisis benar-benar bahan pelajaran yang harus dipelajari siswa, menentukan tingkat kesukarannya, dan menentukan cara penyajiannya yang tepat sesuai dengan tingkat perkembangan jiwa anak yang akan mempelajarinya. Untuk keperluan ini, guru perlu benar-benar memperhatikan predisposisi siswa dalam belajar dan pengalaman-pengalaman belajar yang pernah dipelajari atau dialaminya, serta struktur pengetahuan yang harus diajarkan kepada siswa-siswanya.
Mengingat mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral, maka berhasilnya pendidikan siswa secara formal terletak pada tanggung jawab guru dalam melaksanakan tugas mengajar. Mengajar merupakan suatu perbuatan atau pekerjaan yang bersifat unik, tetapi sederhana. Dikatakan unik, karena berkenaan dengan manusia yang belajar, yakni siswa dan guru yang mengajar serta bertalian erat dengan manusia di dalam masyarakat. Dan manusia adalah makhluk Allah yang unik. Dikatakan sederhana karena mengajar dilaksanakan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari dan mudah dihayati oleh siapa saja.
Mengajar pada prinsipnya adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Atau dapat pula dikatakan merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran sehingga menimbulkan terjadinya proses belajar pada diri siswa. Pengertian ini mengandung makna bahwa bahwa guru dituntut  untuk dapat berperan sebagai organisator kegiatan belajar siswa yang mampu memanfaakan lingkungan, baik yang terdapat di dalam kelas maupun di luar kelas.
Pemahaman akan pengertian dan pandangan guru terhadap mengajar akan mempengaruhi peranan dan aktivitasnya dalam mengajar. Sebaliknya aktivitas guru dalam mengajar serta aktivitas siswa dalam belajar sangat bergantung pada  pemahaman guru terhadap mengajar. Mengajar bukan sekedar menyampaikan ilmu pengetahuan, melainkan mengandung makna yang lebih luas dan kompleks, yaitu terjadinya komunikasi dan interaksi manusiawi dengan berbagai aspeknya.
Setelah kita mengupas tentang belajar dan mengajar, maka kita akan lanjutkan dengan pengetian pembelajaran. Pembelajaran adalah upaya menciptakan kondisi dengan sengaja agar tujuan belajar dapat dipermudah pencapaiannya.  Dengan kata lain pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa dan bagaimana belajar menjadi kegiatan yang efesien dalam menghasilkan perbuatan belajar yang efektif.
Dalam kegiatan pembelajaran perlu dipilih strategi yang tepat agar tujuan pembelajaran dapat dicapai. Pada setiap kegiatan pembelajaran terlebih dahulu harus dirumuskan tujuan pembelajarannya. Tujuan pembelajaran harus bersifat “behavioral” atau berbentuk tingkah laku yang dapat diamati, dan dapat diukur. Dapat diukur artinya dapat dengan tepat dinilai apakah tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan pada awal kegiatan pembelajaran dapat dicapai atau belum.
Di sinilah letak pentingnya strategi pembelajaran, yaitu menentukan semua langkah dan kegiatan yang perlu dilakukan, sehingga dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa. Hal ini dapat membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan di awal kegiatan pembelajaran. Jadi strategi pembelajaran adalah keputusan instruktur dalam menetapkan berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan, sarana dan prasarana yang digunakan, termasuk jenis media yang digunakan, materi yang diberikan, dan metodologi yang digunakan dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.

RUJUKAN
Hayadin, M.Pd, Peta Masa Depanku (PMD), (Cet. I; Jakarta: Elsas 2005), h.53
H. Nashar, Peranan Motivasi dan Kemampuan Awal dalam Kegiatan Pembelajaran, (Cet. I; Jakarta: Delia Press, 2004), h. 49
Sardiman A.M., Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Cet. I, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2007), h. 20
Drs. Hamzah Uno, M.Pd, Teori Belajar dan Pembelajaran; Suatu Pengantar’ (Cet. I, Gorontalo:Nurul Jannah, 1998), h. 7
Drs. Moh. Uzer Usman, Dra. Lilis Setiawati, Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, (Cet. II; Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), h. 4
L. Lorn Hubbard, Learning How ToLearn; Mempelajari cara Belajar, (Cet. II, Jakarta: PT. Grasindo, 2003), h 4-5
Dewi Salma Prawiradilaga dan Eveline Siregar, Mozaik Teknologi Pendidikan, (Cet. I; Jakarta: Prenada Media 2004), h. 4
About these ads
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 34 other followers

%d bloggers like this: