Faktor Yang Mendukung Keberhasilan Belajar

Kita semua dilahirkan denga rasa ingin tahu yang tak pernah terpuaskan. Dan kita semua mempunyai alat-alat yang kita perlukan untuk memuaskannya. Jika kita perhatikan seorang bayi misalnya, yang sedang meneliti dengan seksama sebuah mainan baru. Ia masukkannya ke dalam mulutnya untuk mengetahui rasanya. Ia menggoyangkannya, mengangkatnya, memutarkannya perlahan-lahan sehingga ia bisa melihat semua sisinya terkena cahaya.Ia menempelkannya di telinga, menjatuhkannya ke lantai dan mengambilnya kembali, membongkar bagian-bagiannya dan menyelidikinya satu persatu.
Proses penelitian ini, kini disebut balajar secara menyeluruh (global learning). Global learning merupakan cara efektif dan alamiahbagi seorang manusia untuk mempelajari bahwa otak seseorang anak hingga usia enam tahun atau tujuh tahun adalah seperti spons, menyerap berbagai fakta, sifat-sifat fisik, dankerumitan bahasa yang kacau dengan

cara yang menyenangkan dan bebas stres.  Proses ini ditambah dengan faktor-faktor umpan balik positif dan rangsangan dari lingkungan, dan jika demikian maka telah tercipta kondisi yang sempurna untuk belajar apa saja.
Jika keta telaah lebih dalam, kita telah mencapai prestasi yang menakjubkan pada tahun-tahun awal kehidupan kita, berkat kekuatan pikiran yang menakjubkan. Pada tahun-tahun pertama, kita mulai belajar berjalan dan kita berhasil untuk itu. Pada tahun kedua kita mulai belajar berkomunikasi dengan bahasa, keterampilan yang kita pelajari tanpa buku tata bahasa, sekolah atau ujian. Nyatanya seperti kebanyakan orang, pada tahun kelima, kita telah mengenal sembilan puluh persen dari semua kata yang biasa digunakan oleh orang dewasa. Jikapun dalam keluarga itu terdapat beberapa bahasa sekaligus yang digunakan namun kita tetap berhasil menguasai bahan pelajaran tersebut. Pada tahun keenam, biasanya kita telah mulai belajar membaca. Suatu fase yang oleh kalangan ahli pendidikan disebut sebagai “tugas belajar tersulit” yang dapat dilakukan oleh manusia. Kiat melakukan semua ini berkat kekuatan otak kita yang laur biasa.
Dari untaian penjelasan singkat di atas tentang keberhasilan belajar pada masa awal kehidupapan seseorang, kita akan melihat faktor-faktor umum keberhasilan belajar pada umumnya. Dalam hal ini kita akan melihat keberhasilan dalam belajar dari toga faktor penting yakni faktor internal pembelejar dan kedua adalah faktor eksternal. Kedua faktor ini sesungguhnya saling terkait, karena bisa jadi karena faktor internal maka faktor eksternal yang buruk dapat diatasi, demikian pula sebaliknya.


1) Faktor Internal
Dalam membahasa keberhasilan dari faktor internal, faktor internal yang dimaksud dalam tulisan ini adalah faktor keberhasilan belajar yang datang dari diri siswa atau subjek belajar. Baik faktor pisiknya maupun faktor psikisnya. kita akan membahas terlebih dahulu faktor psikisnya. Dalam hal ini ada berbagai model klasifikasi pembagian macam-macam faktor psikologis yang diperlukan dalam kegiatan belajar. Thomas F. Staton menguraikan enam macam faktor psikologis yaitu: motivasi, konsentrasi, reaksi, organisasi, pamahaman dan ulangan.
a)    Motivasi
Motivasi adalah keinginan dan dorongan untuk belajar, dalam hal ini, motivasi meliputi dua hal yakni subyek belajar mengetahui apa yang akan dipelajari danmemahami mengapa hal tersebut patut untuk dipelajari. Dengan berpijak pada dua unsur motivasi inilah sebagai dasar permulaan yang baik untuk belajar. Sebab tanpa motivasi, kegiatan belajar ataupun mengajar akan sulit untuk berhasil.
b)    Konsentrasi
Faktor konsentrasi, dimaksudkan sebagai pemusatan segenap kekuatan perhatian pada suatu situasi belajar. Unsur motivasi dalam hal ini sangat membantu tumbuhnya proses pemusatan perhatian. Di dalam konsentrasi ini keterlibatan mental secara detail sangat diperlukan, sehingga tidak perhatian sekedarnya.
c)    Reaksi
Di dalam kegiatan belajar, diperlukan keterlibatan fisik maupun mental, sebagai suatu wujud reaksi. Belajar harus aktif, tidak sekedar apa adanya, menyerah pada lingkungan, tetapi semua ini haris dipandang sebagai tantangan yang memerlukan reaksi. Dengan demikian, kecepatan jiwa seseorang dalam memberikan respons pada sutu kegiatan belajar merupakan faktor yang penting dalam belajar. Belajar aktif adalah kegiatan belajar yang dapat menyingkap kemampuan otak kanan maupun otak kiri, belajar aktif juga berarti secara aktif mencari motivasi yang diperlukan oleh subyek belajar.
d)    Organisasi
Belajar dapat juga dikatakan sebagai kegiatan mengorganisasikan, menata atau menempatkan bagian-bagian bahan pelajaran ke dalam suatu kesatuan pengertian.hal semacam inilah yang dapat membuat seseorang belajar akan menjadi mengerti dan lebih jelas, namun juga ada kemungkinan bertambah bingung. Hal ini dapat terjadi adanya perbedaan antara cara penerimaan dan pengaturan fakta-fakta dan ide-ide dalam pikiran siswa yang belajar.
e)    Pemahaman
Pemahaman dapat diartikan menguasai sesuatu dengan pikiran. Karena itu belajar berarti harus mengerti secara mental makna dan filosofisnya, maksud dan implikasi serta aplikasi-aplikasinya, sehingga menyebabkan subyek belajar dapat memahami suatu situasi. Memahmi maksudnya, menangkap maknanya, adalah tujuan akhir dari setiap belajar.
f)    Ulangan
Lupa merupakan sesuatu yang tercela dalam belajar. Tetapi lupa adalah sifat umum manusia. Penyelidikan menunjukkan, bahwa sehari sesudah para siswa mempelajari sesuatu bahan pelajaran, atau mendengar suatu ceramah, mereka banyak melupakan apa yang telah mereka peroleh selama jam pelajaran tersebut. Begitu seterusnya, semakin lama semakin banyak pula yang dilupakan, walaupun mungkin tidak lupa secara keseluruhan. Sehingganya Bobby DePotter mngemukakan jalan keluarnya adalah dengan memperbayak jeda dalam suatu materi pelajaran. Hal ini terjadi karena seseorang akan lebih banyak mengeingat suatu materi adalah awal dan akhir suatu sesi. Dengan memperbanyak jeda, maka akan memperbayak hal yang dikuasai siswa.  Selain itu, untuk mengatasi kelupaan, diperlukan kegiatan “ulangan”. Mengulang-ulang suatu pekerjaan atau fakta yang sudah dipelajari membuat kemampuan subyek belajar untuk mengeingatnya akan semakin bertambah. Mengulangi atau memeriksa dan mempelajari kembali apa yang sudah dipelajari, maka kemungkinan untuk mengingat bahan pelajaran akan menjadi lebih besar.
g)    Kemampuan awal
Kemampuan awal adalah pengetahuan, keterampilan dan kompetensi yang merupakan prasyarat yang dimiliki untuk dapat memperlajari pelajaran baru pada jenjang selanjutnya.  Kemampuan awal mempelajari suatu materi pelajaran berarti adalah kemampuan yang dimiliki siswa dari perbuatan belajar sebelumnya. Dengan demikian, kesuksesan belajar pada suatu jenjang adalah bagaimana kemampuan awal yang dimiliki siswa dari jenjang sebelumnya. Hal ini akan sangat berpengaruh pada keberhasilan belajar siswa pada jenjang tertentu.
h)    Faktor fisiologis.
Dalam hal ini adalah kondisi badan fisik subyek belajar, kesehatannya, dan keadaan inderanya. Karena secara fisik, belajar membutuhkan berbagai aktivitas seperti gerakan, terobosan, permaianan dan seterusnya. Dalam hal ini, keadaan fisik sangat dibutuhkan untuk kesuksesan belajar. Walaupun dalam kondisi tertentu, keadaan fisik terkadang tidak menjadi penghalang untuk belajar, seperti orang buta, tuli atau cacat lainnya. Akan tetapi secara umum kondisi fisik memberikan dukungan besar pada keberhasilan belajar.
2)  Faktor Eksternal
Faktor eksternal dalam bahasain ini adalah faktor kesuksesan belajar yang ditunjang oleh faktor-faktor yang berada di luar pribadi subyek belajar, dalam hal ini tentunya menyangkutbeberapa hal diantaranya faktor guru, keadaan lingkungan dan media yang digunakan.
Guru sebagai sosok sentral dalam kegiatan pembelajaran tentunya merupakan sosok yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan belajar siswa utamanya yang mengunakan jalur pendidikan formal. Eksistensi guru tentunya diakui oleh semua golongan dalam hal keberhasilan belajar anak.
Keadaan lingkungan, seperti penerangan, kenyamanan, ada musik latarnya merupakan kondisi yang kondusif untuk keberhasilan belajar. Oleh karena itu keadaan lingkungan sekitar dalam belajar dapat direkayasa sedemikian rupa untuk keberhasiln belajar. Tentunya hal ini adalah bagian dari strategi pembelajaran yang dapat di buat oleh semua pihak yang berkepentingan terhadap hasil belajar siswa. Dalam hal ini tentunya peran guru haruslah cukup besar andilnya dalam menyediakan keadaan lingkungan yang baik.
Media pelajaran, adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mempermudah pencapaian tujuan pembelajaran.  Bila pencapaian tujuan pembelajaran telah dapat dicapi dengan mudah, maka keberhasilan belajar siswa akan dapat ditingkatkan.
Dengan demikian dalam penerapannya pelaksanaan pre tes dan pengukuran kemampuan belajat siswa kelas I pada mata pelajaran Fikih, berangkat dari pengertian pre tes yang diungkapkan oleh Djamarah adalah  test yang diberikan kepada siswa yang dilaksanakan sebelum pelajaran dimulai atau sebelum proses pembelajaran.  Dan pengukuran kemampuan belajar adalah melihat kemampuan awal yang dimiliki siswa seperti pengetahuan, keterampilan dan kompetensi yang merupakan prasyarat yang dimiliki untuk dapat memperlajari pelajaran baru pada jenjang selanjutnya.  Kemampuan awal mempelajari suatu materi pelajaran berarti adalah kemampuan yang dimiliki siswa dari perbuatan belajar sebelumnya. Dengan demikian, kesuksesan belajar pada suatu jenjang adalah bagaimana kemampuan awal yang dimiliki siswa dari jenjang sebelumnya. Hal ini akan sangat berpengaruh pada keberhasilan belajar siswa pada jenjang tertentu. Hal ini diukur oleh guru apakah pada tahap selanjutnya siswa dapat diberikan materi lanjutan atau belum. Dengan demikian sebenarnya nampak persamaan antara pre tes dalam pengukuran kemampuan belajar, akan tetapi perbedaan mendasar terdapat pada kapan kedua tes atau pengukuran tersebut dilaksanakan. Bila pre tes diberikan sebelum proses pembelajaran sejak awal, sedang pengukuran kemampuan belajar dapat dilakukan pada tahap lebih lanjut, baik di tengah maupun diakhir proses pembelajaran.

DAFTAR RUJUKAN
Bobbi DePotter & Mike Hernacki, Quantum Learning; Unleashing The Genius In You, Diterjemahkan Oleh Alwiyah Abdurrahman dengan judul Quantum Learning; Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan,  (Cet. X, Bandung: Kaifa, 2001), h. 22
Sardiman AM., Op.cit., h. 40-44
Bobbi DePotter & Mike Hernacki, Quantum Learning; Membiasakan Belajar Nyaman dan Menyenangkan, (Cet. X, Bandung: Kaifa, 2001), h. 332
Drs.  H. Nashar, M.Ag, Op.cit, h. 64
Dewi Salma Prawiradilaga dan Eveline Siregar, Op.cit., h. 223
About these ads
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 34 other followers

%d bloggers like this: